Review Movie

Review: Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016) Kembali ke Dunia Sihir Harry Potter

Setelah epic saga Harry Potter berakhir dengan manis pada tahun 2011 lewat Harry Potter and The Deathly Hallows. Potterheads nampaknya belum puas jika franchise Harry Potter berakhir sampai situ saja.

Alih-alih membuat sekuel. JK Rowling memilih langkah yang lebih realistis dengan membuat spin off yang masih satu dunia dengan Harry Potter, yaitu kisah tentang Newt Schamander. Newt Schamander adalah seorang penyihir sekaligus zooligist hewan-hewan magis yang menulis buku Fantastic Beasts and Where to Find Them dan menjadi buku yang paling sering dipinjam di perpustakaan Hogwarts termasuk pada saat era Harry Potter.

Mengambil setting berpuluh-puluh tahun sebelumnya lahirnya Harry Potter dan jauh sebelum pertempuran melawan Voldemort, Fantastic Beasts memfokuskan kisahnya pada Newt Schamander (Eddie Redmayne) di tahub 1926, yang mengoleksi makhluk-makhluk fantastis nan aneh pergi ke New York untuk mencari dan melepaskan salah satu hewan ‘piaraannya’. Namun ternyata, Newt datang ke New York di saat yang kurang tepat.

Gellert Grindelwald baru saja kabur dari penjara dan berniat mengacaukan dunia dengan membikin onar di dunia muggle (Di Amerika muggle disebut no-maj) dan bisa ditebak, Grindelwald membuat masalah di New York.

Film diawali dengan potongan-potongan surat kabar harian penyihir yang menyiratkan komunitas sihir sedang kacau akibat para no-maj sudah melihat terlalu banyak aktivitas sihir dan kabar Grindelwald yang kabur dari penjara. Grindelwald adalah penyihir hitam sebelum era Voldemort.

Fantastic Beast yang diproduseri langsung oleh JK Rowling plus skenarionya ditulis langsung oleh wanita terkaya di Inggris itu serta disutradarai oleh David Yates yang sudah terbiasa menangani seri Harry Potter, mengajak penonton untuk kembali berpetualang seru di dunia sihir yang fantastis dan imajinasi khas JK Rowling yang membuat Potterhead dimanjakan dengan suguhan cerita yang tidak asal-asalan.

Albus Dumbledore juga disebut-sebut di sini, meskipun tentu saja tidak ditampilkan. Kita jadi tahu bahwa Newt Schamander dikeluarkan dari Hogwarts karena hewan-hewan piaraannya tu dianggap membahayakan.

Ada momen-momen yang memancing gelak tawa di tengah-tengah tegangnya cerita, hal itu disebabkan oleh tingkah Jacob Kowalski (Don Fogler) seorang muggle/no-maj yang tidak sengaja harus ikut-ikutan berpetualang bersama Newt. Karakter Kowalski ini sudah beberapa kali membuat saya terpingkal-pingkal karena tingkahnya.

Bagi para Potterhead tentu tidak masalah dengan istiliah-istilah, makhluk-makhluk (seperti peri rumah), atau segala unsur yang berkaitan dengan Harry Potter karena sebelumnya para Potterhead sudah terbiasa dan pasti tahu semuanya, tapi lain halnya dengan non-fans, mereka pasti akan sedikit kebingungan ketika menonton Fantastic Beasts.

Pertempuran di adegan terakhir di New York juga berhasil membuat adrenalin penonton naik, dan kejadian itu disaksikan oleh banyak sekali muggle. Wow, fantastis!

Antagonis dalam film ini sendiri nantinya akan berujung pada twist, saya tidak akan memberi spoiler di sini, demi menjaga keasikan menonton bagi kamu yang belum pernah menontonnya.

Suasana New York tahun 20an juga dibangun dengan sangat baik, apalagi dari segi kostumnya, maka tak salah jika Fantastic Beasts berhasil meraih piala Oscar untuk Best Costume Design.

Bagaimanapun Fantastic Beasts dikerjakan dengan baik dan hati-hati agar tidak gagal, ini bisa dilihat bahwa yang menulis skenarionya adalah JK Rowling sekaligus memproduserinya serra David Yates selaku sutradara tahu betul 100% Film ini harus dibuat seperti apa.

Kesimpulannya adalah, Fantastic Beasts adalah film yang mampu membawa Potterhead untuk memulai petualangan baru yang tak kalah menakjubkan dengam seri Harry Potter. Jika sekuelnya dibuat oleh jajaran tim yang sama, maka bisa dijamin petualngan di film berikutnya potterhead akan terus dimanjakan. Bukan tidak mungkin kita bisa melihat Albus Dumbledore atau bahkan James Potter ketika masih di Hogwarts.