Review Movie

Review: The Fate of  The Furious (2017)

Ketika pertama kali muncul pada tahun 2001 dengan The Fast and The Furious dan mengenalkan tokoh Dominic Toretto dan Brian o’Conner, film itu langsung lahir menjadi sebuah franchise yang laris meski sempat kecewa lewat Fast and Furious: Tokyo Drift yang tanpa Paul Walker dan Vin Diesel tetapi franchise ini seakaan hidup kembali lewat instalemen ke-4 nya lewat Fast & Furious (2009). Dan puncaknya terjadi dalam Fast 5 (2011) di mana seri film kebut-kebutan ini berhasil naik kelas dari yang sekedar film kebut-kebutan menjadi punya cerita yang cukup kuat dan sedikit kompleks, di Fast 5 banyak adegan yang akan selalu dikenang para pecinta seri FF terutama aksi loncat-loncatan di gedung di pemukiman kumuh di Brazil. Kemudian di FF6 yang masih dikomandoi oleh Justin Lin adalah salah satu seri yang spesial karena ada aktor Asal Indonesia, Joe Taslim yang terlibat dalam film ini. Furious 7 yang disutradarai oleh James Wan menjadi film terakhir yang dibintangi oleh mendiang Paul Walker sekaligus kedatangan bintang baru “pindahan dari Death Race” Jason Stattham. Lalu apakah instalemen ke-8 yang digarap oleh F. Gary Gray akan menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar kebut-kebutan dan adegan aksi sinting yang tak berotak seperti yang sudah-sudah? Berikut ulasannya.

 Selalu laris bak kacang rebus, seri FF terus berlanjut ke film ke-8 layaknya sinetron Indonesia yang tak berujung, fans yang banyak dan jaminan bioskop akan penuh merupakan suatu hal yang dimiliki oleh seri film ini. Dalam The Fate of Furious (FF8) kali ini tidak lagi digarap oleh Justin Lin ataupun James Wan melainkan oleh F Gary Gray (The Italian Job, Friday, Be Cool) tentunya dengan kehadiran sutradara kulit hitam tersebut menjadi sebuah pertanda akan ada unsur drama yang lebih dalam seri ke-8 ini. Sebagaimana diketahui bahwa dalam FF8 ini, Dominic Toretto (Vin Diesel) melakukan pengkhianatan dan menjadi tokoh antagonis, sedangkan Deckhard Shaw (Jason Statham) bertransformasi menjadi protagonis, sedikit unik sekaligus aneh namun harus diakui hal tersebut memang untuk terus menarik banyak penonton yang merasa “wah bakal seru”. Dan hasilnya memang tidak mengecewakan, FF8 tetap menyajikan hiburan dengan aksi gila-gilaan dan sinting yang tak pernah terbanyangkan sebelumnya. 

Melanjutkan kisah setelah Furious 7 di mana Deckhard Shaw berhasil dijebloskan ke penjara, seri ini berkisah tentang para tokohnya yang pada awalnya ingin pensiun dan hidup tenang, tapi semua itu jauh dari kenyataan karena masalah baru terus saja muncul.Dom dan Letty (Michelle Rodriguez) yang asik sedang menikmati bulan madunya di Kuba sampai ada cyber-terrorist yang dinamai Cipher (Charlize Theron) teroris sialan itu mengharuskan Dom untuk bekerja sama dan terpaksa mengkhianati keluarga dan teman-temannya sendiri. Frank/Mr. Nobody (Kurt Russell) harus mengumpulkan timnya kembali dan kali ini dengan bonus Deckard Shaw. Mereka harus melawan musuh terberat yang mempunyai gabungan  teknologi Cipher yang canggih dan Dom, sang bintang utama yang mampu menyatukan mereka layaknya sebuah keluarga.

Setelah pindah haluan dari film balapan dan kebut-kebutan gaje ke film action-heise di Fast Five, FF8 kali ini menawarkan sesuatu yang baru yakni espionage yang dipenuhi oleh teknologi-teknologi super canggih layaknya film hacker. Cukup banyak adegan yang memperlihatkan kecanggihan seperti Chiper yang mengandalkan peretasan jarak jauh, hingga apa yang dilakukan oleh para tokoh-tokohnya sendiri termasuk Dom di akhir-akhir film, semua itu mampu setidaknya memberikan warna baru kedalam seri ini dan rupanya hal tersebut berhasil. Tetapi Gary Gray selaku sutradara sama sekali tidak lupa akar film ini adalah film balap-balapan dan menyelipkan adegan balapan itu di awal film sekaligus untuk tribut bagi Brian o’Conner (Paul Walker).

Banyak pihak yang berpendapat bahwa seri ke-8 ini akan sulit untuk menyamai kegilaan di seri-seri sebelumnya. Aksi pencurian brankas di Fast Five, loncatan sinting dan pendaratan Dom di atas mobil dalam Furious 6 hingga aksi loncat-loncatan mobil di atas gedung di Abu Dhabi di Furious 7, itu semua adalah hal gila yang terulang dalam seri FF8 ini dan tidak mengecewakan. Adegan yang luar bisa dalam film ini adalah kemunculan kapal selam dan scene saat di New York yang mampu melemparkan adrenalin penonton dan bersorak kegirangan melihat aksi gila yang sudah menjadi ciri khas dari seri FF. 

F. Gary Gray yang sempat diragukan akan menyamai hasil kerja Justin Lin dan James Wan ternyata memutar balikan pendapat itu dan melakukan tugasnya dengan sangat baik. Aksi ratusan mobil yang tumpah ruah layaknya ikan sarden menjadi sebuah scene yang spesial dan memorabel sekaligus menjadikannya sebuah karya visual dengan kreativitas tingkat ‘gila’, saya sendiri sulit bagaimana menggambarkan betapa edannya aksi-aksi memukau dalam film ini. 

Juga tidak diboleh dilupakan pertarungan tangan kosong yang gereget antara Luke Hobs (Dwayne Johnson) dan Dechard yang memberi warna tersendiri. Di mana Hobs terlihat seperti pegulat raksasa yang siap meratakan lawan-lawannya sementara Dechard dengan kemampuan beladirinya yang khas mampu melibas musuh-musuhnya dengan sangat cepat. Di sepanjang film Deckhard dan Hobbs yang hubungannya kurang akur berhasil mewarnai film ini dengan dialog saling ejek yang akan mengundang gelak tawa penonton di tengah ketegangan alur cerita yang ada.Roman (Tyrese Gibson) seperti biasanya selalu menjadi pelawak dalam tim dan berkali-kali berhasil memecah tawa penonton. Charlize Theron selaku tokoh antagonis juga berhasil memancarkan aura penjahatnya sepanjang film.

Satu-satunya kelemahan yang dimiliki oleh FF8 mungkin terletak pada naskahnya yang ditulis Chris Morgan yang kurang berhasil menyelipkan dialog-dialog yang berisi di tengah aksi ledakan-ledakan hebat. Namun di balik itu semua The Fate of The Furious merupakan seri film lanjutan yang dibuat sebagaimana mestinya dan membuat peluang franchise ini untuk terus dilanjutkan hingga beberapa seri ke depan. Mengingat, tidak ada tanda-tanda franchise ini akan berakhir sampai seri ke-8 saja.