Review Movie

Review: The Birds (1963)

Jauh sebelum film Jaws garapan Steven Spielberg mempengaruhi dunia perfilman dengan inovasi binatang buas yang menjadi antagonis dalam sebuah film, sutradara legendaris Alfred Hitchock pernah membuat film yang serupa yang ketika itu cukup inovatif yang kelak akan ditiru oleh para pembuat b-movie, menariknya  Hitchcock bukan menggunakan binatang buas seperti buaya, hiu, ataupun ular raksasa melainkan burung! Ya, benar-benar aneh. Tapi bukan Alfred Hitchcock namanya kalau tidak mampu menciptakan ketegangan dalam film sekalipun tokoh antagonisnya “hanyalah” sekawanan burung yang mengamuk dan menyerang manusia tanpa alasan. Film ini dirilis pada tahun 1963 atau tiga tahun setelah Psycho yang fenomenal itu. Di film ini Hitchock mulai benar-benar  meninggalkan format hitam-putih mengingat memasuki dekade 60an, membuat film berwarna semakin mudah dan murah. The Birds adalah film Alfred Hitchcock keempat yang saya tonton setelah Psycho (1960), Rear Window (1954) dan Stranger On A Train (1951) dan saya merasakan nuansa yang sama seperti ketiga film yang saya sebutkan tadi saat menonton The Birds, banyak adegan sederhana tapi menegangkan.

Film ini memulai kisahnya saat Melanie Daniels (Tippi Hedren) bertemu dengan Mitch Brenner (Rod Taylor) saat sedang berbelanja di toko burung.  Ia Merasa tertarik dengan sikap Mitch yang agak misterius kemudian  Melanie  mencari informasi dimana Mitch tinggal. lalu ia mengetahui kalau Mitch sering  ke Bodega Bay untuk mengunjungi ibunya, Lydia (Jessica Tandi) dan adik perempuannya yang  masih berusia 11 tahun, Cathy (Veronica Cartwright). Melanie datang guna memberi kejutan sepasang lovebirds kepada Cathy yang akan berulang tahun (lebih tepatnya sih modus), Melanie kemudian mendatangi rumah Mitch.Lalu di sana Melanie juga bertemu dengan Annie (Suzanne Pleshette) yang menjadi guru di sekolah Cathy. Melanie tinggal di rumah Annie saat di Bodega Bay. pada Awalnya kedatangan Melanie memang serasa seperti  liburan yang menyenangkan  mengingat hubungannya dengan Mitch nantinya  semakin dekat. Tapi itu tidak bertahan lama, ratusan bahkan ribuan burung mengamuk dan menyerang orang-orang di Bodega Bay  dan menjadi sebuah teror yang mencekam dan mengerikan karena burung-burung tersebut mampu membunuh manusia dengan mengenaskan!

Status Alfred Hitchcok yang dijuluki Master Of Suspense memang tidak berlebihan melalui film ini seolah mengukuhkan bahwa dia memang layak dijuluki Master Of Suspense. Film ini tidak memakai musik tapi itu justru disengaja agar dapat membangun nuansa yang realistis dan itu memang berhasil. Adegan burung-burung yang sedang mendarat di tiang-tiang pun mampu membuat saya merinding dan tidak nyaman. Kemudian saat Mitch dkk terjebak di sebuah rumah, dan adegan Pom Bensin terbakar itupun sangat memorabel dan mampu membuat nafas saya berhenti sejenak.

Sama seperti film-film Hitchcok lainnya, film ini juga mempunyai ciri khas yang serupa di mana selalu diawali oleh adegan dengan nuansa yang santai dan perkenalan karakter yang mendalam namun dengan porsi yang pas sehingga penonton mampu merasa terikat dan bersimpati dengan tokoh-tokohnya. Di mana diawali oleh pertemuan dua orang yang perlahan mulai tertarik satu sama lain dan berubah menjadi mencekam ketika memasuki pertengahan film dan semakin menjadi-jadi saat ratusan burung mulai mengamuk tanpa alasan dan menyelipkan misteri yang tidak terpecahkan.

Film ini disebut sebagai pemicu yang membuat orang orang phobia terhadap burung. Bagaimana tidak, adegan-adegan dalam film ini ditampilkan begitu terang-terangan dan menyeramkan di mana saat ratusan burung menyerang dengan suara-suaranya yang akan membuat penonton merasa merinding. Serangan demi serangan burung terhadap manusia juga dirasakan sadis dan disturbing, hal inilah yang akan membuat penonton bernafas tidak tenang tapi menyenangkan sepanjang film. Anak-anak berlarian sambil menangis tidak tahu apa-apa kenapa mereka disebur oleh ratusan burung sialan yang tidak tahu diri.

Satu lagi, adegan terakhir dalam film amat sangat sederhana tapi sekali lagi Hitchcock melakukan eksekusi adegan tersebut dengan sangat cemerlang. Sesuatu yang jarang ditemui di film-film zaman sekarang di mana ketegangan hanya bisa dibangun oleh CGI yang heboh. Overall, The Birds adalah film suspense klasik dengan kualitas dan tingkat ketegangan yang maksimal meski tidak sebagus Psycho, dan jelas The Birds bukanlah film terbaik dari Alfred Hitchcock.