Star Wars: The Last Jedi (2017) Review

Keputusan George Lucas untuk menjual lisensi Star Wars kepada Walt Disney rupanya cukup tepat. Dulu ia bersikeras tidak akan melanjutkan kisah Star Wars setelah film Star Wars Episode VI: Return of Jedi. Tapi kini Star Wars terus dilanjutkan tanpa campur tangan Lucas dan Disney memenuhi keinginan dan hasrat fans yang menginginkan kelanjutan setelah episode VI berakhir tahun 1983 yang lalu.

The Force Awakens (2015) yang digarap oleh JJ Abrams mendapatkan respon yang luar biasa dengan berhasil menjadi film terlaris sepanjang masa di box office Amerika Serikat.

Kini tongkat estafet beralin pada sutradara Rian Johnson (Looper) yang dipercaya untuk menangani ‘proyek sakral’ tersebut. Rian Johnson sadar meskipun secara keseluruhan The Force Awakens mendapatkan pujian namun tidak sedikit yang mengkritik bahwa episode VII itu terlalu mirip dengan Episode IV: A New Hope (1977). Dan Rian Johnson menutupi semua kekurangan tersebut dalam Star Wars Episode VIII: The Last Jedi.
The Last Jedi membawa penonton kepada cerita yang lebih dalam, lebih seru, penuh kejutan tak terduga, namun juga masih banyak momen-momen menyenangkan. Saya sendiri berani menyebut The Last Jedi ini sebagai film Star Wars terbaik setelah The Empire Strikes Back. Saya awalnya pesimis kepada Rian Johnson bahwa ia mampu menyeimbangi JJ Abrams tapi dugaan itu ternyata salah besar. Satu lagi yang perlu dicatat, film ini bukan hanya dikhususkan untuk para fans berat Star Wars namun untuk semua penonton non-fans, karena kisah yang disajikan begitu menarik sekalipun untuk orang ‘awam’ terhadap franchise opera antariksa ini.
Saat trailer The Last Jedi dirilis, banyak pihak yang skeptis dan komentar negatif bermunculan dengan mengatakan The Last Jedi akan menjadi ‘foto copy’ dari Empire Strikes Back dan bahkan ada yang mengatakan cuplikan trailer tersebut seperti bukan Star Wars. Tapi itu salah besar! Jangan menilai film hanya dari trailer, ini jelas bukan Empire Strikes Back, The Last Jedi bukan pengulangan dari Empire Strikes Back.

Btw, ini menjadi film terakhirnya Carrie Fisher dan film ini didedikasikan untuk pemeran Leia Organa tersebut.
Kisahnya sendiri berlanjut tepat setelah kejadian di akhir The Force Awakens, di mana Rey (Daisy Ridley) menemui Luke Skywalker (Mark Hamill) di pulau terpencil untuk memberikan kembali Lightsaber milik Luke yang terjatuh dan hilang saat pertarungan melawan Darth Vader di Episode V. Luke dalam film ini karakternya terlihat bukan Luke yang seperti kita kenal dulu. Selain sudah tua, Luke juga terlihat seperti ‘frustasi’ karena pertikaian antara sisi gelap dan susi terang. Rey bersikeras bahwa Jedi sangat dibutuhkan pada konflik yang berkecamuk itu.

Sementara itu Resistance, yang dipimpin oleh Jenderal Leia Organa (Carrie Fisher) makin tersudut oleh The First Order yang semakin kuat, yang kemudian mengharuskan seorang Finn (John Boyega), Poe (Oscar Isaac), dan Rose (Kelly Marie Tran) melangsungkan misi diam-diam untuk menyabotase pesawat First Order. Opening dibuka dengan The First Order yang menyerang dan membombardir Resistance dan saling adu Lightsaber.
Supreme Leader Snoke (Andy Serkis) yang film sebelumnya berbentuk hologram raksasa, kini menjadi sosok yang lebih nyata dan duduk di singgasana.

Konflik yang dihadirkan bertumpuk namun sama sekali tidak membosankan dan bahkan durasi 156 menit terasa sangat sebentar. Dan yang paling penting adalah berbagai twist yang akan memberikan penonton kejutan tak terduga di tengah konflik yang begitu kompleks.
Johnson telah membuat Star Wars ke-8 ini ke tempat sebagai mana mestinya dan memenuhi keinginan fans dan kritikus.

Post Author: Hilman Sky

Seorang penulis novel dan blogger yang mencintai dunia film dan anime

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi