Review: Spider-Man Homecoming (2017)

Pada tahun 2009 Tobey Maguire yang memerankan Spider-Man di tiga film original itu mengundurkan diri dan menyebabkan pengunduran sutradara Sam Raimi dan berujung pada pihak Sony yang membatalkan Spider-Man 4. Kemudian harapam muncul tatkala pada tahun 2012 sebuah reboot kisah manusia laba-laba dirilis dan Andrew Garfild didapuk sebagai Peter Parker dalam embel-embel The Amazing Spider-Man. Ketika itu perdebatan antar fans di internet pun mencuat membicarakan dan membandingkan yang mana yang lebih baik, selang dua tahun kemudian lewat The Amazing Spider-Man 2 semakin memperuncing perdebatan di kalangan fans bahwa versi Andrew Garfield sudah gagal walaupun yang sebenarnya yang gagal adalah sutradara Marc Webb yang memberikan sebuah film yang biasa-biasa saja untuk ukuran Spider-Man. Saat itu bos Sony Pictures nampaknya gatal ingin melihat Spider-Man bergabung bersama Iron Man CS dalam The Avengers, hingga fans pun mendesak Marvel agar mau bekerja sama dengan Sony supayasi manusia laba-laba dapat masuk dalam Marvel Cinematic Universe. Maka diputuskanlah Spider-Man: Homecoming yang lagi-lagi menjadi reboot untuk yang kedua kalinya. Nama Tom Holland mencuat menggantikan Andrew Garfield. Hasilnya? Hmmm, ya begitulah..

baca juga:  Review: Superman (1978)

Naskah film ini sendiri ditulis secara  keroyokan oleh enam orang dua di antaranya adalah Watts dan Chris McKenna (Captain America : The Winter Soldier) Tidak menunjukan sisi serius dan kelam seperti yang telah ditunjukan pada versi Tobey maupun Andrew namun mungkin lebih menekankan pada sisi hiburan ringan dan segala kekonyolan cerita yang mudah sekali dimengerti oleh semua umur yang selama ini menjadi ciri khas dari film-film Marvel Cinematic Universe. Tidak ada adegan Peter nangis sewaktu melihat pamannya tertembak oleh perampok ataupun  Peter yang meratapi dirinya yang kesulitan mencari uang untuk apartemennya. Yang ada adalah segala permasalahan klasik remaja masa kini termasuk jatuh cinta.

 

Kostum yang dipakai oleh Peter dalam versi Tom Holland ini juga terlihat lebih canggih dibandingkan dengan versi-versi sebelumnya. Tentu saja bibi Mei yang dalam versi homecoming ini juga terlihat lebih menggoda dan menjadi bahan perbincangan fans (Marisa Tomei), unsur drama dan komedi-kemedi yang ringan jelas lebih dominan dan semakin terlihat jelas jika Homecoming adalah mengikuti tradisi MCU yang warna-warni namun tidak norak dan kekanak-kanakan, namun di sisi lain yang disayangkan adalah hilangnya sentuhan emosional dari seorang Peter Parker yang sudah ada baik di versi Tobey maupun Andrew.

Jangan berharap ada tokoh-tokoh seperti Harry Osbourne, Mary Jane ataupun Gwen Stacy di sini, tidak akan ada. Sutaradawa Watts sepertinya ingin supaya penonton tidak bosan dan terlalu banyak membandingkan jika harus memasukan tokoh-tokoh lama seperti yang saya sebutkan di atas. Semuanya terlihat sangat fresh dan baru.

Keaton sebagai vulture

Akting Holland sebagai Peter Parker versi baru bisa dibilang cukup berhasil dengan mampu membedakan dirinya dengan Tobey dan Andrew. Peter yang cerewet, kikuk, sering bertingkah kocak, naif, dan tentu saja sedikit ceroboh di awal-awal karirnya sebagai supehero. Sementara itu, Michael Keaton yang harus memerankan penjahat juga berhasil melakukan tugasnya dengan baik di mana ia terlihat sangat menyebalkan sepanjang film.

baca juga:  Review: Beauty And The Beast (2017)

Spiderman: Homecoming adalah sebuah reboot yang cukup baik dengan segala masalah yang ditampilkan dari Peter Parker versi remaja dan problematikanya. Namun, bagaimana pun Homecoming bukanlah film seperti Spider-Man versi original dengan semua kedalaman emosionalnya. Homecoming hanyalah sebuah hiburan dan bagian dari Marvel Cinematic Universe yang warna-warni.

Artikel Seru Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi