Review: Si Doel The Movie (2018)

Mendapatkan gelar “Sinetron Legendaris” Membuat Si Doel melekat di hati masyakat Indonesia sejak era 90an, sinetron tersebut mempunyai 7 musim dan sebenarnya memiliki cerita yang sangat sederhana, yaitu kehidupan Si Doel dan keluarganya. Sejak akhir kisah Si Doel Anak Gedongan pada 2006 di mana Sarah kabur ke Belanda dalam keadaan mengandung karena kecewa pada Doel yang dianggap lebih memperhatikan Zaenab yang saat itu sedang menderita karena hingga keguguran atas bayi yang dikandungnya, cerita seakan menggantung walaupun sempat dibuat versi FTV nya pada 2011 namun ternyata setelah saya menonton Si Doel The Movie, cerita yang ada di FTV Si Doel Anak Pinggiran nampaknya tidak pernah ada.

14 tahun setelah Sarah pergi ke Belanda tanpa kabar yang jelas, Doel (Rano Karno) merasa kebingungan harus mencarinya ke mana dan menikahi Zaenab (Maudy Koesnaedy). Hans (Adam Jagwani) saudaranya Sarah meminta Doel dan Mandra untuk pergi ke Amsterdam, Belanda guna membawakannya alat-alat kesenian betawi untuk Tong Tong Fair Festival di Amsterdam. Usut punya usut, ternyata Hans punya maksud lain meminta Doel ke Belanda, yaitu mempertemukannya dengan Sarah dan anaknya, yang diberi nama Abdullah (Fahreyza Anugrah). Di Jakarta, Zaenab (Maudy Koesnaedy) baru mengetahui jika Hans adalah saudaranya Sarah dari Atun (Suti Karno) dan di sinilah Zaenab mulai bergejolak batinnya, takut suaminya itu kembali kepada cinta lamanya.

Enyak (Aminah Cendrakasih) masih berperan walaupun tidak banyak karena keterbatasan beliau dikarenakan sakit, namun kehadirannya membuat nuansa khas rumah Si Doel tetap terasa. Rumah Doel yang ada di film ini bukanlah rumah asli yang seperti di seri sinetronnya melainkan replika yang sengaja dibangun khusus untuk film ini.

Semua tokoh tetap tidak berubah karakternya dan itu yang paling saya suka, Doel yang banyak diam dan serius, Mandra yang mampu membuat penonton tertawa dengan tingkahnya yang kocak dan khas, Atun yang sudah punya anak tapi tetap terlihat seperti Atun yang dulu. Karakter Sarah masih sama seperti Sarah di episode pertama SDAS, dan tentu saja Zaenab yang secara fisik juga nyaris tidak berubah alias awet muda.

Penonton akan diajak nostalgia, mulai dari rumah Si Doel, celetukan Mandra, hingga ‘adegan kebersamaan’ yang membawa penonton teringat dengan masa lalu. Ya, tawa dan haru bercampur menjadi satu.

Untuk urusan cerita, Si Doel The Movie langsung pada inti cerita tersebut, tidak bertele-tele. Doel kembali dihadapkan sebuah pilihan yang sedari dulu seperti belum selesai-selesai ditambah dengan kenyataan bahwa dirinya telah ‘meninggalkan’ seorang anak yang kini sudah remaja. Durasi yang hanya 85 menit, juga membuat alur cerita film ini terkesan singkat dan padat.

Pada setiap wawancara Rano Karno selalu mengatakan kalau film ini adalah film yang akan menjawab pertanyaan penggemar selama ini, siapa yang dipilih si Doel. Di akhir cerita jawaban itu memang terjawab, namun masih terkesan menggantung dari sudut pandang penonton. Ketika film berakhir yang ada di benak saya adalah seperti nonton film pendek saking saya menikmati momen-momen dari awal sampai akhir. Ekspektasi saya terhadap Si Doel The Movie memang tidak begitu tinggi dan saya puas sudah menontonnya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi