Review: Sebelum Iblis Menjemput (2018)

Genre horor memang tengah mengalami puncak tren bagi perfilman tanah air setelah kesuksesan besar Pengabdi Setan (2017), namun pada kenyataannya belum ada yang berhasil menyaingi film Joko Anwar tersebut, banyaknya film horor lokal di tahun 2018 berakhir dengan mengecewakan dan menguap begitu saja walaupun berhasil menarik banyak jutaan penonton alias keuntungan finansial. Kafir (2018) garapan Azhar Kinoi Lubis memberikan angin segar dengan kualitasnya yang mampu setidaknya mendekati Pengabdi Setan. Kini dalam rentang waktu rilis yang berdekatan, kembali muncul film horor lokal yang sama gilanya, ialah Sebelum Iblis Menjemput yang digarap oleh sutradara ‘haus darah’ Timo Tjahyanto.

Ya, terpisah dari Mo Brothers, Timo tetaplah Timo yang mempunyai hasrat sinting dengan membuat film segila mungkin tanpa meniggalkan aspek keindahan sinematik itu sendiri. Timo yang selama ini terkenal akan film-film yang punya ciri khas semacam Rumah Dara (2010) kembali menampilkan sesuatu yang tak bisa dalam Sebelum Iblis Menjemput. Sempat bermain-main dengan genre action saat menangani Headshot (2016) kini Timo berhasil membuat karya yang memang menjadi tempat bermainnya selama ini.

Dikisahkan seorang gadis bernama Alfie (Chelsea Islan) ibunya (Kinaryosih) meninggal ketika ia masih kecil dan ayahnya Lesmana (Rey Sahetapy) yang menjadi kaya raya menikah lagi dengan Laksmi (Karina Suwandi) yang mempunyai tiga orang anak yaitu Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan Nara (Hadijah Shahab). Maya adalah anak tertua dan memulai konflik dengan Alfie. Cerita dimulai ketika Lesmana melakukan ritual mengerikan dengan seorang wanita yang mengerikan dan garis waktu meloncat ke depan di mana Lesmana terbaring di rumah sakit karena penyakit yang misterius berupa penyakit kulit yang mengerikan. Saat Alfie mengunjungi rumah lamanya yang bertempat di daerah terpencil, ternyata Maya dan anak-anaknya datang ke sana juga untuk menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk menguasai harta Lesmana. Konflik keluarga yang disfungsional dimulai dan berlanjut ke babak yang sinting ketika mereka melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan.

Jika Kafir (2018) masih malu-malu menampilkan adegan yang gila dan edan, maka tidak dengan Sebelum Iblis Menemput, mulai dari pertengahan awal, adrenalin penonton sudah dipacu sekencang mungkin dan memperingatkan bahwa teror dalam film bukanlah main-main. Maka jadilah Sebelum Iblis Menjemput sebagai film Timo yang bermain-main dengan darah walaupun tidak sebanyak film-film yang sebelumnya. Efek jump scare dan teror berupa penampakan setan yang mengerikan benar-benar membuat penonton tidak nyaman bahkan kemunculannya sering kali tidak terduga dengan balutan efek spesial yang tepat guna.

Chelsea Islan bermain sebagaimana mestinya dan ini bisa dibilang penampilan terbaik aktris cantik itu di sepanjang karirnya di dunia layar lebar, pun demikian dengan Pevita Pearce yang mampu membuat penonton geregetan dengan aktingnya yang berhasil sebagai sosok Maya dalam film ini. Jangan lupakan Karina Suwandi, sebagai aktris senior dirinya mampu menjadi seorang wanita yang terlihat sangat mengerikan. Ya, ketiga wanita ini adalah trio bintang utama dalam Sebelum Iblis Menjemput.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, banyak sekali elemen-elemen yang mengejutkan dalam Sebelum Iblis Menjemput, mulai dari gore, hingga dentingan piano yang sedari awal film mengiringi bagaimana tidak biasanya film ini. Sebelum Iblis Menjemput bukanlah horor yang sekedar ikut-ikutan tren pasca Pengabsi Setan melainkan hasil karya dari tangan seorang yang memang menggilai horor dan thriller dan hasilnya adalah sebuah kesintingan hakiki.

 

Comments

  1. By Puja Damayani

    Balas

    • By Hilman sKy

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi