Review: Rear Window (1954) Sederhana Tapi Menegangkan

Salah satu karya dari sutradara iconic dan legendaris, Alfred Hitchcok saya tonton. Film Rear Window merupakan salah satu film suspense klasik terbaik yang pernah digarap oleh Alfred Hitchcock The Master Of Suspense. Film ini merupakan film kedua Hitchcock yang saya tonton setelah Psycho (1960). Meskipun film ini dirilis tiga tahun sebelum Pyscho yang masih berformat hitam-putih, namun Rear Window sudah menggunakan format gambar berwarna dan merupakan sebuah “kemewahan” di zamannya, mengingat tidak banyak film-film yang sudah berwarna di  era tahun 50an.

Kita sudah tahu bagaimana kejeniusan seorang Alfred Hitchcock di dalam membangun sebuah ketegangan dari sebuah hal yang sederhana dan terlihat realistis tanpa dibuat-buat bahkan untuk ukuran film di tahun 50an sekalipun. Alfred tahu betul bagaimana menciptakan atmosfir untuk mempengaruhi psikologis orang yang menonton filmnya. Film ini dibintangi oleh James Stewart, aktor yang pada masa itu sedang dalam puncak tertinggi dalam karirnya dan suah menjadi aktor legendaris berkat aktingnya yang luar biasa.

Rear Window berkisah tentang seorang fotografer profesional yang bernama L.B. Jefferies (James Stewart) dia harus menerima realita  bahwa kakinya mengalami patah pada waktu pengambilan gambar. kemudian Ia menghabiskan waktu  6 bulan lamanya di dalam sebuah apartemen dan cuma bisa duduk di  kursi roda sembari menonton kegiatan para tetangganya melalui jendela belakang apartemen. Suatu saat, dia mendengar suara seperti jeritan histeris kemudian dia curiga bahwa salah satu penghuni yang berada di belakang apartemennya itu telah melakukan pembunuhan pada isterinya sendiri. Kecurigaannya semakin meyakinkan saat dia  mencoba mengumpulkan bukti dan meminta bantuan teman detektifnya, Thomas Doyle (Wendell Corey). Jeff semakin lama semakin asik melakukan pemyelidikan di dalam kamarnya sendiri dan hanya mengandalkan sudut pandangnya di balik jendela belakang apartemennya itu.

baca juga:  Star Wars Episode V: Empire Strikes Back (1980)

Rear Window bukanlah film suspense seperti zaman sekarang yang menyajikan kehebohan. Artinya film ini adalah film yang bertipikal slow-burn dan tidak semua orang bisa menikmati film ini. Hanya para penikmat film suspense sejatilah yang dapat masuk ke dalam atmosfir film ini yang diramu serealistis mungkin dan menciptakan ketegangan dari adegan-adegan yang bisa dibilang sederhana. Alfred Hitchcock melalui film ini juga seakan mengajak penontonnya untuk turut ikut serta dalam melakukan penyelidikan dengan ikut mengamati semua tingkah polah para tetangga Jeff yang diperkihatkan memlalui sudut pandang Jeff sendiri melalui kamera yang dipakainya.

Pada awalnya mungkin nyaris separuh film ini terasa membosankan karena dipakai untuk memperkenalkan karakter L.B. Jefferies secara rinci dan latar belakangnya. Setelah itu barulah penonton diajak untuk “membantu” memantau para tetangganya dan munculah ketengan yang dibangun melalui dialog dan usaha Jeff membuktikan bahwa dugaannya itu memang benar adanya.

Dalam usahanya itu, Jeff meminta bantuan Detektif Thomas Doyle (Wendell Corey) dan pada awalnya Jeff juga sempat berdebat denga kekasihnya, Lisa Carol (Grace Kelly) karena Lisa menganggap kekasihnya itu mengurusi hal yang tidak penting tapi lama-lama Lisa juga jadi curiga dan ikut tertarik untuk membantu pengamatan dan penyelidikan ini. Konflik awal lebih memfokuskan pada perdebatan dan adu argumen antara Jeff dan detektif Doyle yang mempunyai pandangan berbeda pada kasus ini. Jeff meyakini ini adalah pembunuhan yang dilakukan oleh Lars Thowald (Raymond Burr) yang membunuh isitrinya sendiri dan detektif Doyle bersikukuh bahwa dugaan rekannya itu salah.

Nuansa menegangkan yang dibangun bukan lewat mengekspos adegan-adegan berdarah-darah dan kekerasan seperti di dalam film-film thriller zaman sekarang. Akan tetapi  lebih menekankan pada argumen-argumen dan dialog yang dimiliki oleh Jeff guna meyakinkan memang benar ada terjadinya pembunuhan. Suasana mencekam dan tegang pun dipaparkan melalui minimilasisasi penggunaan musik supaya terasa lebih real. Bagaimana cara dan proses Jeff mengumpulkan data dan fakta hingga beradu argumen dengan Detektif Doyle adalah bagian dari unsur thrill itu sendiri.

baca juga:  [Review] Kong: Skull Island (2017)

Maka tak heran jika film ini merupakan salah satu film Alfred Hitchcock yang dengan cerita yang orisinil dan bagaimana sebuah cerita yang sederhana dengan hanya memakai satu lokasi saja, film ini mampu menyajikan penceritaan yang tidak dangkal sepanjang 105 menit.

Artikel Seru Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi