Review: Psycho (1960) Film Klasik Yang Mencekam

Apa yang terlintas di benak kamu setiap kali mendengar kata ‘Psycho’? tentunya akan tertuju pada orang yang memiliki kelainan mental yang suka menyiksa dan membunuh orang demi kesenangan bukan?

Psycho yang dirilis pada tahun 1960 silam kini sudah menjadi salah satu film klasik terbaik sepanjang masa, film ini merupakan salah satu karya dari sutradara legendaris Hollywood, Alfred Hitchcock. Psycho diadaptasi dari novel best seller berjudul sama karya Robert Bloch.

Psycho adalah karya besar dan menjadi film yang berpengaruh dan kelak akan banyak pengekornya. Film ini tersedia dalam dua versi. Versi original yang hitam putih dan versi berwarna. Saya sendiri lebih memilih untuk menonton yang hitam putih agar tetap bisa merasakan nuansa orisinil dan mencekam sepanjang jalan ceritanya.

Film zaman dulu, memunculkan ketegangan tidak harus menggunakan visual effect dan adegan lebay seperti kebanyakan film zaman sekarang. Semua yang ada di film ini terasa sangat realistis, tapi justru karena realistis itulah ketengan yang dimunculkan pun sangat amat terasa.

Kisah film ini menceritakan Marion Crane (Janet Leigh) seorang karyawan kantoran yang ingin segera menikah dengan kekasihnya, Sam Loomis (John Gavin). Suatu hari, bos perusahaan tempat Marion bekerja menitipkan uang sebesar $40.000 (suatu jumlah yang sangat besar di tahun 1960) untuk dikirimkan ke rekening bank perusahaan. Namun Marion yang butuh uang malah nekat membawa kabur uang tersebut dengan niat menikah dengan kekasihnya. Nah, dari sinilah Hitchcock mulai melemparkan ketegangan dan mengocok-ngocok adrenalin penonton. Saat adegan Marion membawa kabur uang $40K itu di sepanjang jalan, nafas penonton seakaan dicekik perlahan berkat akting dan pembawaan cerita yang sangat brilian dari seorang Alfred Hithcock. Kita sebagai penonton seolah-olah memiliki ketegangan yang sama gilanya dengan tokoh Marion Crane.

baca juga:  Review: Superman (1978)

Di perjalanan saat diikuti oleh polisi yang mencurigainya, Marion sengaja menjual mobilnya untuk dapat membeli mobil yang baru dengan tujuan meninggalkan jejak di sini pula adegan diramu dengan apik dan tetap membuat dada penonton berdebar kencang ketika musik tema diperdengarkan dengan cara tiba-tiba. Pada malam hari yang disertai hujan lebat, Marion melihat sebuah motel yang bernama Bates Motel di tepi jalanan yang sangat sepi. Marion memutuskan untuk beristirahat di motel itu. Motel itu dijaga dan dimiliki oleh seorang pria yang ‘kesepian’ bernama Norman Bates (Anthony Perkins) yang tinggal bersama ibunya di sebelah motel tersebut. Nah, di sinilah konflik masalah dan ketegangan semakin menjadi-jadi.

Ketika saya menonton film ini, saya belum pernah membaca atau menonton spoiler dari film ini sehingga saya bisa nonton dengan nyaman dan memuaskan. Alurnya tidak mudah ditebak dan tiap detiknya penonton diajak ke dalam suasana yang tak menentu.

Adegan ‘shower scene’ yang legendaris dan belakangan ditiru oleh film-film lainnya dikabarkan memerlukan 50 kali take walau adegan itu hanya menghasilkan 3 menit. Ini menunjukan bahwa Alfred Hitchcock adalah sutradara yang perfeksionis.

Ketika akhir film. Akan dijelaskan dengan gamblang, mengapa ini dan itu bisa terjadi dan akan membuat mengangguk-angguk. Namun tidak semua misteri dipecahkan dan dijelaskan secara jelas. Seperti, ke manakah uang 40 ribu dollar itu?

Psycho memang bukanlah film yang mempertontonkan adegan bersimbah darah khas film-film jagal murahan, namun menawarkan lebih dari sekedar itu. Tidak semua bisa saya jelaskan di sini karena nantinya akan menjadi spoiler. Yang jelas Psycho bukanlah film tentang Psikopat murahan seperti film-film bertema jagal pada masa kini.

baca juga:  Review: Your Lie In April "live action" (2016)

skor: 8.5/10

Artikel Seru Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi