Review: Power Rangers (2017)


Menyematkan sebutan “World Phenomenon” di trailer film ini untuk Power Rangers (PR) memang rasanya tidak terlalu berlebihan karena pada faktanya PR khususnya Mighty Morphin Power Rangers telah menjadi sebuah pop culture terlebih pada tahun 90an, serial PR sangat booming dan melanda seluruh dunia termasuk Indonesia. Power Rangers yang kini memasuki season ke 24 nya itu tetap tidak mampu menyamai suksesnya musim pertama, banyak penonton yang beranjak dewasa yang berhenti menonton sejak berakhirnya Zordon Era pada Power Rangers In Space, karena pada dasarnya cerita PR sudah berakhir sejak saat itu, season selanjutnya hanya cerita baru. Sedangkan generasi baru sekarang tidak seantusias dalam menyaksikan PR zaman sekarang.

Kini Saban Entertainment yang bekerja sama dengan Liongates mencoba mengangkat kembali superhero yang diadaptasi dari supersentai tersebut ke permukaan guna membangkitkan kembali memori anak-anak 90an sekaligus memperkenalkan PR angkatan pertama pada generasi yang baru dengan jajaran cast yang baru pula dan tentu saja dengan teknologi yang lebih canggih guna menyajikan aksi Jason dkk. Film ini dipercayakan untuk ditangani oleh Dean Israilite dengan naskah yang ditulis keroyokan oleh lima orang. PR jelas bukanlah superhero yang cocok untuk digelap-gelapkan layaknya The Dark Knight juga bukan jalan yang tepat untuk membuat tetap cheesy dan kekanak-kanakan namun Dean selalu sutradara mengambil jalan tengah dengan menjadilan PR kali ini sebagai Pop Corn movie yang menyenangkan untuk ditonton akan tetapi tidak ada kata membosankan. Pemeran lima prajurit warna warni diserahkan kepada  Dacre Mantgomemery sebagai Jason Lee Scott/Ranger Merah, Becky G sebagai Trini Kwan/ Ranger Kuning, Rudi Lin sebagai sebagai Zack/ranger hitam, Naomi Scott sebagai Kimberly Hart/Ranger Pink dan RJ Cyler sebagai Billy/ Ranger Biru. mereka berlima menggantikan Austin St John dkk sebagai jagoan baru yang akan beraksi sepanjang film.

baca juga:  9 Fakta Tentang Persaingan Marvel dan DC Comics

Jason (Dacre Montgomery), Billy (RJ Cyler), Kimberly (Naomi Scott), Zack (Ludi Lin) dan Trini (Becky G) mereka merupakan anak muda yang secara tak sengaja menemukan koin aneh yang misterius yang akhirnya memberi kelimanya kekuatan super. Seperti yang sudah diduga ternyata koin itu adalah milik sang mentor,  Zordon (Bryan Cranston) Zordon kali ini agak berbeda dengan versi orginalnya karena memakai balutan CGI, Zordon dulunya adalah  Ranger merah yang jutaan tahun lalu menjadi pemimpin Power Rangers berperang melawan pasukan jahat Rita Repulsa (Elizabeth Banks), manusia setengah alien dan ternyata dia adalah mantan anggota Power Ranger sebagai Ranger hijau yang berkhianat. Kemudian Rita Repulsa kembali bangkit, dengan begitu, Zordon merekrut kelima anak muda tersebut guna melawan Rira Repulsa, jadilah mereka Power Rangers dengan Zord yang super canggih. Ya, inti ceritanya masih sama dengan versi originalnya hanya saja dengan nuansa yang lebih dewasa.
Nyaris tiga perempat durasi film ini dipakai untuk memperkenalkan saty per satu tokoh penting secara mendalam dan kemudian berlanjut pada melatih kekuatan super yang mereka miliki yang dibimbing oleh Alpha 5 (Bill Hader), Alpha kini memakai CGI bukan lagi manusia berkostum robot. Pelatihan dilakukan agat mereka dapat mengenali kekuatan mereka dengan baik dan bisa melakukan perubahan dalam wujud Power Rangers. Meskipun nyaris tiga perempat film tak kunjung menghadirkan pasukan warna-warni dengan armor, bukan berarti itu semua membosankan karena selama hampir 90 menit itu pula penonton diajak untuk mengenali lima karakter remaja dengan sifat dan kepribadiannya masing-masing dengan akting yang cukup baik. Sekitar 3/4 durasi nyaris tanpa nuansa khas film  remaja memang dirasakan cukup terasa, mampu memberikan ‘feel’ agar film tidak hambar.Karakterisasi yang cukup kuat diberikan oleh Billy yang merupakan anak yang ‘autis’ Billy kini diperankan oleh aktor kulit hitam berbeda dengan versi originalnya. Selain itu juga para pemeran utama  yang lain ternyata mampu membuat nuansa cerita lebih hidup lewat akting yang natural serta chemistry yang solid dan menciptakan interaksi yang fun dengan bumbu humor yang tidak garing.RJ Cyler merupakan  yang  paling mampu menghubungkan penonton dengan karakter-karakter lainnya. Naomi Scott tampil nyaris sempurna sebagai Kimberly yang anggun yang memang dari dulu merupakan idola dari para fans Power Rangers.
Adegan pertarungan masif robot raksasa Megazord dirasakan cukup menghibur dan memberikan nuansa yang pas untuk pop corn movie, namun Israelite nampaknya harus belajar dari Michael Bay bagaimana caranya membuat adegan-adegan yang lebih heboh lewat pertarungan robot karena memang adegan megazord dalam film ini agak kurang “wah” sedikit. Selain itu Isralite memperlihatkan latar yang cukup kelam sepanjang film namun tidak depresif dan berlebihan, kadarnya pas.

baca juga:  Review: Hacksaw Ridge (2016) Bukan Film Perang Biasa

Perpindahan dari paruh pertama yang lebih realistis menuju  fantasi  tinggi di paruh kedua memang dirasakan agak tersendat dan sedikit dipaksakan. Setelah paruh pertama yang bejalan tiga perempat durasi itu kemudian mendadak alurnya ke rentetan aksi Rita Repulsa yang dirasa cepat.Hal itu memang disayangkan mengingat ini menjadi hal yang cukup mengganggu.  Kurang cermatnya editing.  Untuk urusan plot hole kecil memang masih ada layaknya seperti versi serial originalnya, penonton  akan menemukan kejanggalan beberapa hal yang sepertinya sudah lumrah dalam dunia PR, misalkan zord yang entah bagaimana dapat begitu saja ada, dan dari mana para Rangers mengetahui tentang adanya pedang di Megazord, dan lain-lain. Tapi itu semua rasanya tidak perlu pusing-pusing untuk dipikirkan terlalu jauh, karena ya begitulah sedari dulu Power Rangers. Kemudian satu hal yang saya kurang sukai adalah karakterisasi dari Rita Repulsa yang diperankan oleh Elizabeth Banks, begitu terlihat tidak alami, sangat jauh apabila dibandingkan dengan Rita Repulsa versi aslinya. Jika ditanya karakter siapa yang paling gagal, saya akan dengan lantang menjawab Rita Repulsa, karakternya begitu hambar dan terlihat dipaksakan dan tak mampu menandingi Michigo Soga yang berakting luar biasa dalam serial originalnya. Pihak studio sudah memberikan peran vilain itu pada orang yang salah, sangat disayangkan.
Namun di balik semua kelebihan dan kelemahan yang ada di sana-sini, film ini setidaknya mampu memberikan nostalgia yang kental terutama mereka yang generasi 90an untuk kembali mengikuti petualangan Jason dkk dengan nuansa yang benar-benar baru. Lantunan lagu Go..Go..Power Rangers meski durasinya tidak terlalu panjang mampu membuat saya merinding. Jangan lupakan pemeran serial aslinya yang menjadi cameo yang seolah menjadi hadiah bagi para fans lama, mereka adalah Jason David Frank dan Amy Jo Johnson. Power Rangers 2017 adalah film yang dibuat guna menganggkat kembali cerita lama dengan perubahan dan nuansa baru, tidak perlu marah atau benci dengan perubahan karena sejatinya hal itu semata-mata untuk mengikuti zaman toh perubahan dalam film ini tidak radikal dan masih mempertahankan “tradisi lama” dari Power Rangers itu sendiri. Setelah film berakhir ada sedikit cuplikan di after credit scene yang menandakan film ini akan ada sekuelnya.

baca juga:  Review: King Kong (1933) Klasik dan Original

Artikel Seru Lainnya:

Comments

  1. By opank

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi