[Review] Kong: Skull Island (2017)

Pada tahun 1933 Merian C Cooper membuat sebuah mahakarya yang menggemparkan dunia perfilman Hollywood yang saat itu masih dalam periode awal film dengan suara. Melalui film King Kong, dirinya dikenal menjadi kreator dari sosok kera raksasa nan iconic tersebut. Film King Kong 1933 bisa dikatakan menjadi salah satu klasik terbaik yang pernah dibuat.

Sebelumnya film King Kong sudah pernah diremake dua kali, yaitu pada tahun 1976 dan tahun 2005 yang disutradarai oleh Peter Jackson. Harus diakui versi Peter Jackson jauh lebih baik dibandingkan dengan versi yang tahun 1976. Film yang dirilis 2005 itu menawarkan keindahan visual dan sinematografi yang nyaman dipandang.

Dan kini, setelah beberapa tahun dirilisnya film Godzilla (2014). Universal berambisi untuk membangun sebuah Monster-verse, Legendary Pictures bertekad untuk mempertemukan Godzilla dengan kera raksasa penguasa pulau tengkorak, King Kong. Maka dibuatlah reboot dari King Kong ini sebagai bentuk keperluan akan dipertemukan dengan Godzilla nanti. Posisi sutradara kini dipercayakan pada Jordan Vogt-Robert. Dibintangi oleh sederet aktor dan aktris papan atas seperti Tom Hiddleston, Samuel L. Jackson, Brie Larson, John C. Reilly dan John Goodman.  Serta ditambah oleh aktor asal asia, Jing Tian yang sebelumnya sempat bermain di The Great Wall.

Dalam film ini kita tidak akan melihat adegan King Kong memanjat gedung Empire State Building seperti yang ada di versi 1933 dan 2005. Tinggi King Kong juga terlihat jauh lebih tinggi dan bisa berjalan tegak layaknya manusia, saya agak kurang suka ini karena terlihat konyol seperti versi 1976 dan malah terlihat seperti badut yang sering ada di jalanan.

Bukan lagi mengambil setting di tahun 30an yang serba klasik, Kong: Skull Island mengambil latar waktu tahun 70an saat terjadi perang Vietnam, tidak ada lagi kapal ‘Venture Surabaya’. Kisahnya, Pada tahun 1973, James Conrad (Tom Hiddleston) direkrut oleh Bill Randa (John Goodman) dan Houston Brooks (Corey Hawkins) untuk ditugaskan melaksanakan ekspedisi ke Skull Island (Pulau Tengkorak). Tempat yang sangat misterius yang  belum pernah tersentuh oleh manusia. Mereka kesana untuk meneliti dan melakukan mengeksplorasi ke tempat-tempat yang belum pernah dipetakan sebelumnya. Oleh sebab itu sebuah kelompok di Vietnam pimpinan Kolonel Packard (Samuel L. Jackson) mendapatkan tugas untuk membantu ekspedisi mengerikan itu, sebelum mereka ditarik pulang. Lalu ikut seseorang dalam rombongan tersebut seorang wartawan anti perang bernama Mason Weaver (Brie Larson).

baca juga:  Review: Dunkirk (2017) Film Perang Pertama Dari Sutradara Jenius

Apa yang terjadi berikutnya adalah seperti yang sudah-sudah. Mereka bertemu dengan kera raksasa tersebut. Adegan CGI di sini dirasa ada yang halus dan beberapa ada juga yang kasar.
Kong: Skull Island jelas dirancang sebagai pop corn movie, bukan film serius seperti yang dibuat dengan super megah oleh Peter Jackson pada tahun 2005 yang lalu. Btw, saya suka sekali ketika King Kong menyerang Hellicopter seperti menyerang lalat pengganggu yang berterbangan.

Letak masalah dalam film ini terletak pada naskah, karena banyak sekali dialog-dialog yang kaku dan joke-joke yang terkesan agak dipaksakan. Banyak juga adegan yang kurang masuk akal yang membuat saya mengerutkan kening. Bukan hanya King Kong yang ada di Skull Island, tapi banyak juga monster-monster super aneh yang siap untuk mengancan nyawa-nyawa tim yang melakukan ekspedisi.

Sebagai sebuah pop corn movie, Kong: Skull Island tetap layak untuk ditonton karena ceritanya yang mudah untuk diikuti, adegan aksi yang super seru dan King Kong yang kini benar-benar berbeda dari versi yang sebelumnya. Saya seperti melihat Fantastic Beast and Where To Find Theme versi raksasa.

Kong:Skull Island adalah film yang fun untuk ditonton, tapi dengan beberapa kekurangan di sana sini. Tapi sama sekali tidak bisa disebut jelek, malahan saya berani bilang kalau film ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan Godzilla (2014).

Catatan: Setelah filmnya habis, jangan ke mana-mana dulu karena layaknya film-film Marvel ada after credit scene yang menjadi clue ke film berikutnya.

skor: 7.0/10

Artikel Seru Lainnya:

Comments

  1. By Alvi Fadhollah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi