Review Movie

Review: King Kong (1933) Klasik dan Original


Film reboot King Kong yang berjudul Kong: Skull Island (2017) dibuat oleh Legendary Pictures guna keperluan untuk mempertemukannya dengan Godzilla. Tapi versi originalnya yang dirilis puluhan tahun lalu atau tepatnya tahun 1933 adalah tetap jadi salah satu film terbesar dan berpengaruh dalam sejarah perfilman Hollywood. Bagaimana tidak, film hitam putih ini terasa istimewa dan epic di masanya, mengingat pada masa itu, dunia perfilman Hollywood baru memasuki era awal film dengan suara setelah era film bisu. Dan pada saat itu teknologi komputer masih sangat ‘primitif’ sehingga sulit untuk membuat film seperti ini. King Kong yang digarap oleh Merian C Cooper merupakan film yang melebihi zamannya dan termasuk dalam jajaran “The Great Movies of All Time.” Pada masanya film ini sangatlah fenomenal dan menjadikan King Kong sebagai salah satu icon terkenal dari Amerika Serikat hingga berkali-kali diremake.

Saya mencoba untuk menonton film klasik hitam-putih ini sebelum menyaksikan Kong: Skull Island. Nuansa klasik langsung terasa dan saya seperti masuk mesin waktu ke masa di mana bahkan perang dunia kedua belum dimulai.

Ceritanya sendiri berlatar di tahun 1933, Carl Denham (Robert Armstrong) seorang produser film yang baru saja sekaligus sutradara baru saja dipecat dari studio film dan dia nekat untuk mencari lokasi film di tempat misterius, Skull Island untuk dapat tempat yang indah dan eksotis untuk syuting filmnya. Carl Denham kemudian mendapatkan aktor bernama Jack Driscoll (Bruce Cabot) dan mereka menyewa kapal milik Kapten Englehorn (Frank Reicher) beserta krunya karena mereka mengetahui letak Skull Island dari Koordinatnya. Carl Denham kemudian mencari aktris yang mau dibayar murah, bertemulah dia dengan Ann Darrow (Fray Wray) seorang pemain teater yang menjadi pengangguran setelah teaternya bangkrut. Mereka pun akhirnya berangkat.

Yang terjadi selanjutnya adalah seperti yang sudah diketahui, Ann Darrow diculik oleh penduduk setempat untuk diserahkan kepada Kong.


Jujur saja, untuk zaman sekarang film ini memang agak aneh dengan animasinya yang putus-putus. Tapi untuk ukuran tahun 1933 film ini sangatlah luar biasa karena pada saat itu teknologi untuk membuat film sangatlah terbatas dan alat untuk membuat efek dan mengedit video tidak secanggih sekarang. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya membuat adegan demi adegan pada masa itu. Sebut saja saat adegan Carl Denham dkk dikejar-kejar oleh monster seperti dinosaurus, ini adalah salah satu scene yang sangat memorabel dan epic untuk ukuran tahun 30an.

Adegan berikutnya yang tak kalah mengagumkan adalah saat Kong bertarung dengan T-Rex, kemudian saat kru kapten Englehorn bersama warga setempat berhamburan menghindari Kong. Dan tentu saja scene paling terkenal dalam film klasik ini adalah saat si kera raksasa memanjat Empire State Builiding).


Merian C. Cooper sekalu kreator dan sutradara jelas telah membuat karya yang fenomenal di saat Amerika sedang dalam masa depresi ekonomi ketika itu, dia telah membuat cerita yang sangat baik dan plot yang rapi serta visual effect yang sulit di masanya. Film ini juga dibintangi oleh aktor dan aktris yang legendaris dan terkenal di era film hitam-putih.

Versi remake tahun 2005 yang dibuat oleh Peter Jackson adalah untuk menghormati (tribute) dari versi originalnya ini.