Review: Kafir (2018)

Selepas kesuksesan besar Pengabdi Setan (2017) sudah seharusnya film garapan Joko Anwar itu menjadi standar baru film horor lokal di tengah berserakannya horor medioker akhir-akhir ini. Kafir: Bersekutu dengan setan yang ditangani oleh Azhar Kinoi Lubis adalah satu horor yang pada faktanya bukan sekedar horor medioker yang hanya jualan jump scare dan jualan jajaran komposisi pemain yang bisa mendatangkan banyak penonton generasi zaman now.

Seperti yang disebutkan di atas, jika nuansa kengerian dan mencekam dalam film ini bukanlah dari rentetan formula jump scare ala-ala Holllywood melainkan seperti kembali ke masa horor Indonesia klasik dengan level yang lebih tinggi. Sutradara Azhar Kinoi Lubis rupanya menggarap film yang sejatinya adalah reboot dari film Kafir (2002) ini menjadi sebuah karya yang tidak hanya membuat penonton ngeri dan gereget, tapi juga sebuah sajian sinematik yang indah lewat cinematografi yang ciamik.

Teror dan kengerian sudah ditebar sejak awal film di mana saat keluarga itu tengah makan malam dan mungkin saja membuat para penonton paranoid ketika dirinya makan lalu tiba-tiba tersedak. Oh iya, film ini berlatar pada era 90an lebih tepatnya pada 1998 di Banyuwangi dan di sebuah rumah di daerah terpencil. Sejak sang ayah meninggal dengan sebab yang aneh, istrinya (Sri) menjadi depresi dan ketakutan dan teror lain mulai berdatangan. Andi sebagai anak pertama dan adiknya, Dina pada awalnya berselisih pendapat soal masalah musibah yang menimpa mereka namun kemudian keduanya mencari tahu misteri apa yang sedang terjadi. Di lain pihak, Sri yang semakin depresi karena teror lalu datang menemui dukun Jarwo dan di sinilah cerita dan misteri mulai terkuak. Hanum (Indah Permatasari) adalah pacarnya Andi bersedia untuk membantu Andi dengan menjaga ibunya tersebut, dari sini cerita semakin seru saja.

Scoring musik yang digunakan juga semakin membuat nuansa menegangkan sepanjang film mengingat ini adalah horor-suspense yang mengingatkan kita pada Pengabdi Setan. Lagu “Mawar Berduri” dalam film ini berhasil menambah unsur kengerian.

Dari aspek karakter, saya suka sekali dengan aktingnya Putri Ayudya sebagai Sri, seorang ibu yang depresi, terlihat sekali ia mendalami karakter tersebut dari mimik dan ekspresi wajahnya. Semua pemain berakting dengan sangat baik termasuk Sujiwo Tedjo yang dari suara dan ekspresi mukanya saja sudah membuat penonton merinding.

Efek CGI yang digunakan juga tepat guna alias tidak berlebihan, bahkan di adegan klimaks, efek visual juga terlihat bagus. Plot twist berhasil saya tebak namun tetap mengejutkan apalagi bagi penonton awam yang tidak peduli dengan yang namanya plot twist.

Overall, Kafir: Bersekutu Dengan Setan, layak disebut “FILM HOROR” dan bukanlah horor lokal yang medioker.

Comments

  1. By Puja Damayani

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi