Review Movie

Review: HeadShot (2016) Penuh Dengan Kebrutalan

Pada tahun 2011 yang lalu, dunia pefilman Indonesia khususnya film laga, berhasil mengguncang dunia termasuk Hollywood lewat The Raid: Redemption (2011) film ini pun seketika melambungkan nama Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhian, dll. Gareth Evan bersama para pemainnya semakin mengangkasa tatkala The Raid 2: Berandal (2014) berhasil mendapatkan pujian setinggi langit oleh para kritikus film dunia dan nama Iko Uwais semakin berkibar.

The Raid dinobatkan sebagai film yang memicu kebangkitan film laga Indonesia. Berkat The Raid, para “alumni” nya pun perlahan tapi pasti mulai mengarungi perfilman dunia internasional. Dua film garapan Gareth Evans itu pun menjadi kebangaan Indonesia. Dan setelah itu mulai banyak pembuat film yang mulai latah dan ingin cari kesempatan dengan membuat film-film sejenis, namun kebanyakan kualitasnya seperti langit dan bumi.

Namun semua bisa beharap lebih baik pada duo sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (Mo Brothers) yang sebelumnya mereka berdua telah sukses membuat sederet film-film horor berkualitas. Duo edan ini dengan berani memproduksi Headshot dengan mambawa Iko Uwais sebagai pemeran utamanya dan menjamin bahwa filmya tidak kalah dengan dua film Thr Raid. Selain Iko Uwais, Headshot juga menampilkan dua alumni The Raid lainnya, yaitu  Jullie Estelle dan Very Tri Yulisman. Tak ketinggalan, Headshot menghadirkan Sunny Pang yang menjadi sosok antagonis utamanya.

Film diawali dengan sedikit kekacauan dan baku hantam serta baku tembak di dalam penjara yang menyebabkan Lee (Sunny Pang) berhasil kabur. Adegan ini sukses membuat adrenalin saya naik karena tayangan yang brutal itu terasa seperti nyata, Mo Brothers ternyata menginginkan tensi penonton naik dari awal. Kemudian scene berganti ke adegan sosok pria yang terdampar di pantai dan ditemukan oleh seorang nelayan. Pria itu ditolong dan dirawat oleh seorang dokter yang bernama Ailin (Chelsea Islan) pria tersebut lupa ingatan total dan tidak tahu siapakah namanya, Ailin akhirnya memberi dia nama Ismael (Iko Uwais). Jalinan hubungan antara Ailin dan Ismael menjadi bumbu di awal film, nampaknya sang penulis naskah, Timo Tjahjanto menitik beratkan hubungan Ailin dan Ismael ke arah yang romantis.

Menuju pertengahan film, misteri mulai terungkap. Ternyata Ismael adalah orang yang diburu oleh organisasi kriminal dan kejam yang dimpimpin oleh Lee. Mereka menculik Ailin supaya Ismael mau menyerahkan diri. Siapa sebenarnya Ismael? Mengapa dia diburu oleh Lee?

Penonton akan mengalami ‘de javu’ di mana Ismael bertarung dengan Rika (Jullie Estelle) dimana kedua pemain tersebut juga pernah baku hantam sebagai Rama dan Hammer Girl. Namun dalam Headshot kali ini, gaya bertarung mereka berdua jelas berbeda.

Dari segi cerita kita tidak bisa berharap banyak karena memang agak klise, untuk urusan akting, lagi-lagi tidak terlalu bagus tapi Iko Uwais setidaknya sudah berhasil membuang jauh-jauh persona Rama The Raid dalam dirinya dan berganti menjadi Ismael yang terlihat lebih manusiawi. Adegan pertarungan yang brutal dan sadis namun ‘indah’ menjadi nilai plus dari film ini. Namun harus digaris bawahi, keindahan koreografi dari aksi baku hantam itu masih kalah jika dibandingkan dengan The Raid.

Letak kelemahan dari Headshot sudah jelas ada pada naskah dan akting karena dari segi aksi dan adegan pertarungan yang super duper brutal, Mo Brothers telah menunjukan kelasnya.

Saya cukup berkesan setelah menonton Headshot, tapi tetap tak seberkesan The Raid. Maaf, bukannya membanding-bandingkan, tapi suka atau tidak suka, The Raid sudah menjadi tolak ukur dari film laga di tanah air.
Skor: 7.0/10