Review Movie

Review: Hacksaw Ridge (2016) Bukan Film Perang Biasa

Mel Gibson, setelah suksesnya sebagai sutradara Apocalypto (2006) hanya berkutat sebagai aktor film laga kelas dua, akhirnya pria yang terkenal lewat seri Mad Max itu kembali ke kursi sutradara dan hasilnya jeng…jeng…jeng..! Gibson membuktikan dirinya kalau sebagai sutradara tidak pernah main-main. Braveheart (1995), The Passion Of The Cristh (2004) dan Apocalypto adalah contoh nyata film buatan Gibson tidak pernah mengecewakan. Hacksaw Ridge merupakan film pertama Gibson setelah sepuluh tahun terakhir dan hasilnya sangat memuaskan.

Hacksaw Ridge menceritakan kisah nyata seorang Desmond Doss, tantara Amerika Serikat pada perang dunia II yang menolak membawa senjata sepanjang peperangan berlangsung. Rupanya para sineas Hollywood mungkin lupa negara mereka punya kisah nyata yang hebat seperti itu sehingga baru kali ini difilmkan.

Film diawali dengan adegan pertempuran di Okinawa yang menjadi salah satu bagian perang dunia II. Pertempuran itu terjadi di atas tebing yang Amerika sebut sebagai Hacksaw. Adegan kemudian mundur jauh ke belakang, tepatnya menceritakan masa lalu Desmond Doss (Andrew Garfield) dari masa kecilnya. Doss tinggal di sebuah desa di Virginia bersama ayah, ibu dan kakak laki-lakinya. Ayah Doss adalah seorang veteran perang dunia I bernama Tom Doss (Hugo Weaving) Tom mendapatkan trauma psikologis yang mendalam akibat pertempuran yang juga menewaskan teman-temanya. Ayah Doss melarang anak-anaknya untuk masuk militer karena tak mau melihat anaknya seperti dirinya atau bahkan mati di medan pertempuran. Sesi awal film ini memperkanalkan latar belakang karakter Desmond Doss lebih dalam termasuk pertemuannya dengan Dorothy Scute (Teresa Palmer) wanita perawat di rumah sakit yang kelak akan menjadi istrinya. Romantismenya dengan Dorothy pun menjadi bagian awal penceritaan.

Lewat pengenalan karakter ini, Gibson berhasil menggambarkan ke penonton jika Desmond Doss adalah seorang pria yang fanatik dengan keyakinan agamanya, termasuk beberapa insiden yang membuat Doss menjadi tidak mau memegang senjata dan berjanji tidak akan membunuh orang. Doss bertekad untuk menjadi tentara. Alih-alih untuk membunuh lawan, Doss berniat untuk menyelamatkan nyawa siapa saja medan perang.

Konflik dengan sang ayah pun disajikan tanpa-tanpa berbelit-belit oleh Gibson.

Cerita berkembang ketika Doss masuk pelatihan militer, ketika itu saya merasakan ada unsur Full Metal Jacket dan Platoon di sini. Adegan-adegan menarik dan sedikit menggelitik ketika Desmond Doss masuk pelatihan. Para karakter prajurit pun diperankan dengan sangat baik dan membuat penonton mudah mengingat satu persatu tokohnya karena memang masing-masing mempunyai ciri khas. Sebut saja sersan Howell (Vince Vaugn) yang keras dan kasar tapi terkadang ucapannya membuat orang-orang tertawa atau Smithy (Luke Bracey) yang pada awalnya sinis pada Desmond tapi perlahan-lahan dia malah bersimpati pada Desmond. Kapten Glover (Sam Waringthon) menjadi orang yang super heran dan bingung ketika mendengar Desmond tak mau memegang senjata dan menyangka Desmond adalah orang gila atau orang yang mengalami gangguan kejiwaaan.

Nyaris separuh film, Gibson menyuguhkan pendalaman karakter Desmond Doss dan upaya tersebut memang berhasil. Kita bisa melihat konflik internal yang dialami oleh Doss ketika dimasukan ke penjara militer akibat dituduh melakukan pembangkangan karena tak mau memegang senjata.

Setelah melewati berbagai konflik awal, barulah perang yang sebenarnya dimulai. Mel Gibson menyajikan adegan pertempuran dengan sinematografi yang indah serta adegan peperangan yang brutal ala Saving Private Ryan.  Di paruh kedua film, memang penonton akan dimanjakan oleh pertempuran di tebing Hacksaw.

Hacksaw Ridge jelas bukan film perang yang hanya sekedar mempertontonkan adegan tembak-tembakan dan ledakan. Hacksaw Ridge lebih menekankan pada karakter Desmond Doss sendiri yang mempunyai keimanan yang kuat di tengah-tengah orang-orang yang saling membunuh. Andrew Garfield melakukan tugasnya dengan sangat baik begitu juga dengan semua jajaran cast bahkan figurannya sekalipun. Naskah juga terasa sangat rapi, padat, dan tidak bertele-tele, durasi dua jam dua puluh menit terasa begitu cepat ketika saya menontonnya.

Memang, Hacksaw Ridge belum bisa disejajarkan dengan Saving Private Ryan-nya Steven Spielberg. Tapi setidaknya film mempunyai tujuan dan arah yang jelas untuk disampaikan kepada penonton.

Adegan-adegan brutal pertempuran di Okinawa terasa sangat nyata. Kita diajak ikut merasakan suasana batin yang dirasakan oleh Desmond Doss ketika dia bersikeras dan berteguh hati untuk menyelamatkan banyak nyawa. Tindakan gila Demond inilah yang akan membuat emosi penonton digaruk-garuk hingga akhir film.

Sekali lagi, Mel Gibson sudah berhasil menambah satu lagi film yang berkualitas dan berisi sehingga memang layak mendapatkan nominasi Oscar.
skor: 8.5/10