Review Movie

Review: Hachiko Monogatari (1987)

Sebuah film yang mengharu biru dan mampu membuat saya menitikan air mata walaupun sebelumnya saya sudah tahu alur cerita dan endingnya. Hachiko Monogatari adalah versi original dari Hachiko: A Dog’ Story (2009) yang dibintangi oleh Richard Gere. Dan ternyata versi originalnya ini jauh lebih menguras emosi menurut saya, dikarenakam dibuat mendekati kisah aslinya dan bersetting di Shibuya. Sebuah kisah anjing setia yang melegenda di negeri sakura dan bahkan terkenal ke seluruh penjuru dunia

Sebuah keluarga yang anjingnya baru saja melahirkan membagi-bagikan anak anjing tersebut melalui perjalanan kereta api. Salah satu anak anjing dikira mati oleh petugas stasiun Shibuya karena hanya tidur saja di dalam kotak. Kemudian seorang dosen bernama Shujiro Ueno (Tatsuya Nakadai) memutuskan untuk mengadopsi dan merawatnya yang lalu memberinya nama Hachiko. Awalnya Hachiko dirawat oleh putri satu-satunya Profesor Ueno, Chizuku Ueno (Mako Ishino) tapi Chizuku memutuskan untuk menikah dan pergi bersama suaaminya ke Asakusa dan tidak bisa membawa Hachiko untuk ikut bersamanya. Akhirnya Profesor Ueno memutuskan untuk merawat Hachiko, ia sangat menyayangi Hachiko hingga Hachiko sangat dekat dan penurut. Setiap kali berangkat mengajar, Hachiko selalu mengantarkan Profesor Ueno sampai stasiun shibuya, dan pada sore harinya Hachiko akan menunggu di depan pintu masuk stasiun untuk menjemput tuannya itu. Ke depannya pasti semua pembaca sudah tahu.

Film yang diangkat dari kisah nyata ini disutradarai oleh Seijiro Koyama dan dirilis pada tahun 1987 silam di Jepang. Pada tahun tersebut, Hachiko Monogatari berhasil menjadi film terlaris. Jika dibandingkan dengam versi Hollywoodnya, saya lebih menyukai versi Jepang yang benar-benar dibuat sama persis dengan kisah aslinya. Karena film ini adalah film yang dirilis 30 tahun yang lalu, nuansa jaman dulu lebih sangat terasa menggambarkan latar belakang tahun 1923 di mana Hachiko lahir.

Tatsuya Nakadai yang dikenal sebagai aktor legendaris Jepang mampu memerankan sosok Profesor Ueno dengan baik, anjing yang digunakan sebagai pemeran Hachiko juga mampu mengundang simpati yang mendalam bagi penonton. Di awal-awal penonton emosinya sudah diikat dengan Hachiko kecil yang imut dengan tingkah lakunya yang menggemaskan. Penonton seolah diposisikan sebagai Profesor Ueno tatkala hubungan majikan dan hewan peliharaannya itu semakin dekat ketika Hachiko setia mengantarkan dan menjemput Profesor Ueno di stasiun Shibuya.

Hal yang mengiris hati adalah di sepertiga akhir, di mana Hachiko terlunta-lunta, penonton akan dibuat mengingat kembali kenangan indah Hachiko bersama tuannya. Di sinilah emosi saya diaduk-aduk.

Btw, saya memang juga sudah menonton versi Hollywood-nya dan memang juga sangat bagus. Tapi tetap versi original ini menurut saya adalah yang terbaik.