Review Movie

Review: Frankenstein (1931) Mengerikan!

Bebicara mengenai film horror, maka ada satu sub genre dalam film horror yaitu film zombie, hampir semua sepakat bahwa film zombie pertama adalah Night of  the Living Dead (1968) karyanya George Romero, tapi tunggu dulu, jauh sebelum itu, film bertema serupa tapi tak sama sudah muncul duluan pada tahun 1931, film apalagi kalau bukan tentang mayat yang berhasil dihidupkan lalu menjadi monster yang mengerikan, Frankenstein. Frankenstein sendiri sudah menjadi icon horror di dunia perfilman dan menjadi film horror klasik yang berpengaruh sepanjang masa. Frankenstein nama monster mayat itu diambil dari nama ilmuwan super sakit yang berhasil membangkitkan orang mati, Henry Frankenstein.

Film ini disutradarai oleh James Whale berdasarkan novel karya Marry Shelley berjudul sama dan novel tersebut pertama kali terbit pada tahun 1818. Ada fakta yang menarik dalam film ini. Peran monster Frankenstein pada awalnya diberikan kepada Bela Lugosi yang pada masa itu baru saja menjadi bintang besar berkat perannya sebagai Count Dracula di film Dracula di tahun yang sama, namun karena beberapa alasan, Bela Lugosi menolaknya. James Whale selaku sutradara akhirnya memberikan peran itu kepada Boris Karloff yang pada saat itu tengah berjuang untuk mendapatkan peran utama dalam film. Keputusan ini membuat nama Boris Karloff melambung berkat aktingnya yang luar biasa sebagai Frankenstein lalu beberapa tahun kemudian Bela Lugosi mengatakan kalau dia menyesal tidak menerima tawaran James Whale untuk menjadi Frankenstein. Namun pada akhirnya Bela Lugosi bermain dalam Son Of Frankenstein (1939) bersama Boris Karloff.

Film ini sebenarnya mempunyai makna yang sangat kuat selain keseraman dan mencekamnya suasana yang dibangun, yaitu tentang kesombongan dan keangkuhan manusia yang mencoba menjadi tuhan karena merasa cerdas yaitu menghidupkan orang yang sudah mati! Ya, film ini ceritanya tentang seorang ilmuwan jenius dan agak “gila” bernama Henry Frankenstein (Collin Clive) yang berambisi menghidupkan kembali orang sudah mati dibantu dengan asistennya yang bungkuk, Fritz (Dwight Frye). Film diawali dengan Henry dan Fritz yang menguntit orang-orang yang baru saja menguburkan jenazah di pemakaman setelah itu mereka mencuri jenazahnya dan mayat yang tergantung. Suasana menyeramkan sudah sangat terasa pada awal-awal film ini ditambah dengan musik yang sangat terasa klasik. Kemudian Fritz disuruh oleh Henry untuk mencuri otak manusia di laboratorium, namun sayagnya dia malah mencuri otak manusia yang seorang pembunuh di sinilah terjadinya hal yang sangat fatal.

Walaupun film ini dibuat lebih dari 80 tahun yang lalu, tapi itu tidak mengurangi keseraman dan mengerikannya film ini. Adegan-adegan yang ditampilkan terasa sangat luar biasa untuk ukuran film 1931. Adegan yang paling saya sukai adalah ketika Henry berhasil membuat mayat itu bergerak kemudian dia berkata  Look! It’s moving. It’s alive. It’s alive… It’s alive, it’s moving, it’s alive, it’s alive, it’s alive, it’s alive, IT’S ALIVE!! Sungguh emosional dan sangat terasa luar biasa dalam balutan gambar hitam putih, di sini adegan mulai kian mencekam saja. Pada awalnya semuanya baik-baik saja tapi monster Frankenstein tersebut mulai tidak stabil dan mengamuk. Dr Waldman, orang yang tempat otak laboratoriumnya dicuri adalah dosennya Henry datang mengunjungi ketika itu dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya dan menyangka Henry sudah gila dan melakukan hal yang sangat berbahaya.

Sosok monster yang diperankan oleh Boris Karloff begitu sangat mengerikan dan berhasil membuat saya merinding tingkat kecamatan, walau film ini sudah sangat tua. Sosok Boris Karloff ketika langsung menjadi pusat perhatian dan selalu identik dengan Frankenstein, meskipun Boris bukanlah orang yang pertama yang memerankan sosok monster tersebut karena sebelumnya sudah ada film Frankenstein pada tahun 1910 namun masih dalam format film bisu alias tanpa suara dan berdurasi singkat. Boris Karloff memerankan sosok ini tanpa dialog tapi berhasil mengintimidasi penonton melalui gestur wajah yang sudah dimake-up dengan mengerikan dan terasa nyata. Salah satu adegan dalam film ini adalah saat Frankenstein membunuh seorang anak kecil dengan cara melemparnya ke sungai hingga tewas tenggelam, adegan ini terasa menakutkan dan menjadi kontroversi pada masanya sehingga puluhan tahun lamanya adegan ini harus kena gunting badan sensor di Amerika Serikat. Sebagai info, di Hollywood sudah menjadi aturan tidak tertulis bahwa tidak boleh ada film dengan adegan pembunuhan terhadap anak kecil kecuali adegan tersebut tidak ditampilkan.

Film ini tidak hanya menampilkan keseraman dan ketakutan semata, tapi memiliki pesan moral dan pesan kehidupan tentang sombongnya manusia yang ingin mencoba menjadi tuhan. Manusia seakan terbuai dengan segala kecerdasan dan kejeniusannya hingga melakukan hal-hal yang tidak disadari sudah di luar batas. Frankenstein merupakan sosok monster seperti zombie dan lebih kuat dari puluhan zombie yang lahir akibat dari kesalahan dan kegilaan manusia.