Review Movie

Review: Ed Wood (1994) Penghormatan Untuk Sutradara Terburuk


Apa yang membuat orang-orang besar kehidupannya layak untuk ditulis dan dijadikan sebuah film? Tentunya karena pengaruhnya atau kesuksesannya kan? Contohnya fipm Steve Jobs dibuat untuk mempublikasikan orang yang sudah memberikan kontribusi di dunia teknologi, film-film biografi kepahlawanan dibuat untuk mengenang jasa-jasanya. Tapi apa jadinya jika film biografi dibuat berdasarkan orang yang dicap sebagai sutradara terburuk sepanjang masa? Maka film Ed Wood yang digarap oleh Tim Burton jawabannya.

Di dunia perfilman, orang-orang mengenal sosok Alfred Hitchcock sebagai sutradara yang sangat perfeksionis, dan ternyata ada juga orang yang bersifat kebalikannya, dia adalah Edward Davis Wood Jr atau lebih dikenal dengan nama Ed Woos. Sepanjang karirnya, Ed Wood selalu dikenal sebagai sutradara yang selalu asal-asalan dalam memproduksi sebuah film, karya hancurnya yang paling terkenal adalah Plan 9 From Outer Space  (1959) yang disebut sebagai film terburuk sepanjang masa karena sudah terlalu banyak kekacauan dan sangat parahnya kualitas dari film tersebut.

Film ini dirilis di tahun 1994 dan sosok Ed Wood diperankan oleh Johnny Depp dan merupakan salah satu penampilan terbaiknya sebagai aktor. Tim Burton selaku sutradara menyampaikan cerita dalam film ini langsung kepada intinya yaitu fokus pada Ed Wood (Johnny Depp) yang berumur 30 tahun dan tengah berusaha untuk membuat film yang bagus. Ed Wood ternyata dibalik kemampuan membuat filmnya yang ngasal ternyata dia mempunyai kelainan lainnya yaitu suka memakai pakaian wanita. Kebiasaannya ini akhirnya membuat kekasihnya, Dolores Fuller (Sarah Jessica Parker) memutuska untuk mengakhiri hubungannya yang kemudian Ed Wood menjalin hubungan dengan Katty O’Hara (Patricia Aquertte) seorang aktris amatir yang ikut bermain di filmnya Ed Wood berjudul Bridge Of Monster.

Dalam film ini, Tim Burton juga mengekspos persahabtan Ed Wood dengan aktor terkenal Bela Lugosi (Martin Landau). Bagi yang belum tahu, Bela Lugosi adalah aktor pemeran Dracula dalam film Dracula (1931) Bela yang mempunyai nama tenar ketika itu menjadi redup secara perlahan dan bahkan dikabarkan meninggal lali dilupakan oleh semua orang. Nasib Bela Lugosi yang seperti dibuang oleh masyarakat dan menjadi rapuh dan bertemu dengan Ed Wood yang notabenenya orang yang juga ‘terbuang’ membuat mereka merasa cocok dan menjalin persahabatan yang erat, terlebih Ed Wood adalah pengagum dan fans berat dari Bela Lugosi. Bagi Ed Wood, Bela adalah aktor yang hebat berkat perannya sebagai Count Dracula.

Berbagai upaya dilakukan oleh Ed Wood agar pihak studio mau memberikannya dana untuk membuat film. Di sini ditekankan bahwa Ed Wood selalu memiliki kesulitan keuangan dalam membuat sebuah film. Di sepanjang film ini juga digambarkan bagaimana Ed Wood selalu asal-asalan dalam pengambilan gambar saat syuting. Jika sutradara lain dalam satu hari hanya melakukan satu sampai dua take adegan saja maka Ed Wood bisa melakukan 20-30 take dalam sehari saking asal-asalannya dan parahnya dia bangga akan hal itu. Rekan-rekannya sebagai kru selalu memberikan pendapat kalau pengambilan gambarnya kurang sempurna, tapi Ed Wood bersikeras itu sudah sempurna.

Beberapa kali saya dibuat tertawa saat adegan Ed Wood melakukan pengambilan gambar termasuk saat syuting film Plan 9 From Outer Space. Ed Wood membuat film super duper murah meriah dengan hanya mengandalkan segelintir kru amatiran, aktor amatiran, pemain gulat hingga aktris yang baru saja dipecat. Bahkan Ed Wood harus mencuri properti dari studio besar untuk keperluan syuting karena sulitnya dana. Menggunakan kardus sebagai properti untuk kuburan dan hal menyedihkan lainnya. Ed Wood bertekad untuk menjadi sutradara, penulis, produser sekaligus aktor dalam satu film seperti idolanya, Orson Welles (Citizen Kane) tapi tentu saja dengan kualitas seperti langit dan bumi.

Dari segi akting semuanya bermain dengan sempurna. Johnny Depp berhasil menjadi Ed Wood dengan ekspresi pancaran mata yang ironi sebuah pancaran mata yang yakin bahwa filmnya akan menjadi sempurna dan disukai oleh semua orang. Acungan jempol layak diberikan pada Martin Landau yang mampu menghidupkan kembali sosok Bela Lugosi dengan sangat mirip dan bahkan saya serasa bahwa dia itu memang Bela Lugosi asli.

Tim Burton memang sengaja menjadikan film ini menggunakan format hitam-putih agar para penonton serasa masuk ke era 50an di mana era Ed Wood berkarya dengan kemampuannya yang anti-mainstream tersebut. Film ini juga lebih menyorot bagaimana Ed Wood membuat film dan gayanya yang ngasal ketimbang kehidupan pribadinya. Saya juga bingung apakah Ed Wood ini seorang yang idiot atau memang orang yang sangat mencintai film dan cinta membuat film tapi tidak punya skill dan dana.

Tim Burton membuat film ini ternyata memang bukan untuk tujuan mengolok-olok Ed Wood sebagai sutradara terburuk tapi juga bukan pembelaan atas karya-karyanya. Tapi lebih ke penyampaian bahwa memang seperti itulah seorang Ed Wood.

Saya begitu menikmati durasi dua jam dalam film ini, tertawa sekaligus merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh Ed Wood. Seorang yang benar-benar mencintai film tapi kesulitan mengembangkan kemampuan dan keuangan. Hiks…