Review Movie

Review: Dunkirk (2017) Film Perang Pertama Dari Sutradara Jenius

Nolan yang saat ini menjadi sutradara yang mempunyai ciri khasnya sendiri dan memiliki banyak fanboys di seluruh dunia kini mencoba sesuatu yang baru lewat film bertema peperangan pertamanya. Setelah terkenal lewat Memento (2000) dan mencapai puncak karir lewat The Dark Knight menjadikanya cukup untuk bermain di ranah superhero dan lewat Inception dan Interstellar, Nolan lagi-lagi hobi mempermainkan twis dan alur dengan segala macam teori sains yang rumit. Kini dalam Dunkirk, Nolan mencoba menggali lebih dalam sedalam apa kemampuannya dalam meracik filmyang tak hanya penuh kerumitan alur non linear namun juga tentang drama dan tentang kemanusiaan. Oke, boleh kita berharap atau membandingkan film ini dengan Saving Private Ryan dan Schindler’s List-nya Steven Spielberg karena ini sama-sama tentang Nazi dan perang dunia kedua. Tapi bukan Nolan namanya jika membuat film yang lurus-lurus saja dan hanya mengekor yang sudah ada, lebih dari itu Nolan lagi-lagi mengeluarkan hobinya yaitu membuat alur dan penyampaian yang tidak biasa.

Dunkirk membagi alurnya menjadi tiga bagian yang bagian-bagian tersebut saling berhubungan satu sama lain tapi dengan sistem non linear yang membuat penonton harus menyusunnya sambil asik menikmati cerita dan drama ketegangan yang ada di sepanjang film.

Pertama, The Mole menyajikan cerita usaha angkatan darat dari pihak Sekutu yang kabur dari serangan tentara Nazi Jerman di ujung pantai Dunkirk yang dituturkan melalui sudut pandang Tommy (Fonn Whitehead) prajurit sekutu asal Inggris. Kemudian ada The Sea yang mengambil sudut pandang dari Dawson (Mark Rylance) bersama anaknya, Peter (Tom Glynn-Carney) dan pemuda yang bernama George (Barry Keoghan) yang adalah salah satu dari sekian banyak rakyat sipil yang nekat menyeberangi lautan untuk membawa kembali prajurit di Dunkirk untuk pulang. Lalu yang terakhir ada The Air, bagian ini berlokasi di udara dan berfokus pada tiga pilot Spitfire termasuk Farrier (Tom Hardy). Masing-masing kejadian tersebut durasinya adalah  selama satu minggu, satu hari, dan satu jam.Waktu dalam film, bukan durasi filmnya.

Sulit untuk tidak kagum pada karya Christopher Nolan yang satu ini, dari mulai akting para pemainnya termasuk Harry Styles yang diluar dugaan mampu menunjukan skill seni perannya dalam film debutnya tersebut. Nolan menyajikan Dunkirk dengan gayanya sendiri melalui penceritaan non linear khas miliknya yang pernah dipakai pada The Prestige dan tentu saja tidak akan se-ekstrim Memento yang membuat kepala penonton berasap itu. Salah satu kelebihan Nolan pada Dunkirk adalah meminimalisir pengunaan CGI dan menggantinya dengan practical effect yang menjadi favorit Nolan. Adegan dan Sinematografi saat pertempuran begitu sangat memukau.

Satu lagi yang membuat Dunkirk menjadi beda dengan film perang kebanyakan, yaitu minimnya dialog, beberapa media memberitakan jika Nolan terinspirasi dari beberpa film bisu klasik untuk membuat adegan Dunkirk yang minim dialog dan penuh dengan aksi yang menegangkan namun tetap sarat akan emosi dan makna. Jangan harap Dunkirk akan seperti Saving Private Ryan atau Schindler’s List yang berfokus pada penokohan dan karakter-sentris karena sejatinya film ini lebih berfokus pada event (peristiwa) yang memang benar pernah terjadi sebagai salah satu episode perang kedua yang kelam itu.

Kesimpulannya adalah Dunkirk adalah salah satu film perang terbaik dan harus ditonton oleh para pecinta film perang, walaupun jika harus berkata jujur, pesan kemanusiaan dalam film ini masih kalah jika harus dibandingkan dengan Hacksaw Ridge, tapi segi keindahan visual dan pengalaman sinematik, jelas Dunkirk adalah juaranya.

  • vina

    dunkirk-2017

    click >>> CLASSMOVIES21.BLOGSPOT.TW