Review Movie

Review: Danur (2017)


Sudah menjadi rahasia umum jika kita hendak menonton film horror Indonesia kita harus memasang ekspektasi yang seadanya alias jangan pasang ekspektasi yang terlalu tinggi. Karena kebanyakan dari film-film horror yang sudah-sudah segila apapun promosi tersebur digembar-digemborkan dan menjadi hype, tetap saja setelah menontonnya selalu berujung kekecewaan. Sebutan untuk kebangkitan film horror Indonesia pun acap kali digembar-gemborkan film-film horror terkini seiring ternodanya dunia film horror lokal oleh film-film sampah yang menjual esek2 berkedok horror.

Perlahan, film-film yang disebut sebagai film sampah yang layak dibuang ke tempat sampah tersebut mulai sedikit dan para pembuat film horror mulai membuat film dengan serius. Meski demikian, film horror lokal yang layak disebut punya kualitas masih dapat dihitung dengan jari. Danur, judul film yang diangkat dari novel Gerbang Dialog Danur karya Risa Saraswati (katanya) menjanjikan sebuau tontonan horror yang sebagaimana mestinya. Seperti yang kita ketahui, Risa Saraswati adalah penyanyi sekaligus penulis yang terkenal berkat kemampuannya dalam dunia supranatural (Baca: Indigo). Karya-karya Risa selalu kental dengan unsur-unsur mistis, termasuk salaj satu yang paling terkenal adalah Story of Peter.

Menggaet Prilli Latuconsina sebagai pemeran utama tentu saja suatu hal yang cerdas karena kita tahu Prilly adalah aktris muda yang punya fans yang bejibun, jadi ini bisa dijadikan jurus untuk mengeruk penonton yang sebanyak-banyaknya dari kalangan fans Prilly. Terlebih Prilly memang punya kemampuan akting cukup yang mumpuni. Prilly harus berakting dengan Shareefa Daanish yang saat ini sudah bermain di beberepa judul film horror. Kemudian kursi sutradara diduduki oleh  Awi Suryadi yang sebelumnya sudah menangani film Badoet dan bidadari terakhir. Tampak menjanjikan bukan?

Film diawali dengan hari ulang tahun kedelapan, Risa yang masih kecil (Asha Kenyeri Bermudez) mengharapkan mendapatkan teman-teman baru untuk menghilangkan kesepian dan kesendiriannya dikarenakan selalu ditinggal sang ibu yang sok sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri. Keinginan Risa itupun terpenuhi, sialnya teman-teman yang didapat oleh Risa bukanlah Manusia, tetapi tiga hantu anak Belanda bernama Peter (Gamaharitz), William (Wesley Andrew), dan Jansen (Kevin Bzezovski Taroreh). Sembilan tahun kemudian, Risa dewasa (Prilly Latuconsina) pergi kembali ke rumah masa kanak-kanaknya  untuk menjaga neneknya (Ingrid Widjanarko) bersama adiknya, Riri (Sandrinna Michelle Skornicki). Kejadian-kejadian ganjil dan Keanehan-keanehan mulai bermunculan sejak kedatangan Asisten Rumah Tangga baru, Asih (Shareefa Daanish).

Film Danur mempunyai desain visual yang terasa klasik dengan tata artistik yang bisa dibilang apik dan tidak asal-asalan. Permainan tata cahaya saat scene di alam roh mengingatkan saya pada film Insidous ataupun film-film horror negeri paman Sam yang lain. Film ini sangat terlihat kalau berusaha untuk memperlihatkan visual yang unik dan tidak monoton.

Terasa sangat jelas kalau Awi Suryadi meminjam referensi dari sana-sini (sebut saja Insidious, The Conjuring, American Horror Story dll) Beberapa Jumpscare memang berhasil dieksekusi namun yang lainnya terasa sangat repetitif seperti berjalan di jalanan yang naik turun. Selain visual yang memuaskan dan Jumpscare yang cukup berhasil, dari segi cerita memang tidak ada yang spesial dan inilah yang sangat disayangkan. Danur tidak mengikat penonton dengan jalinan cerita yang kuat walau di akhir film perlahan-lahan misteri siapa jati diri Asih sebenarnya mulai terkuak.

Shareefa Daanish yang dijuluki ratu horror modern menampilkan aura menyeramkannya di sini. Hanya dengan diam dan menampakan wajah tanpa ekspresi saja, dia berhasil mengintimidasi penonton. Tapi itu semua justru dieklpoitasi dengan cukup berlebihan hingga sepertiga akhir film berlangsung. Apa tidak ada hal lain yang bisa dijual selain sekedar memerkan ekspresi menyeramkan itu? Prilly untungnya berhasil menunjukan kemampuan baraktingnya walaupun dia tidak diberikan porsi penggalian dan pendalaman karakter yang lebih dalam lagi.

Danur memang bukanlah film horror yang bisa disebut buruk, kualitas sampah, film ngasal, atau apapun film berlabel tidak layak tonton lainnya. Setidaknya, Danur sudah menunjukan bahwa memang film ini memang film horror yang “sedang berusaha” menjadi film horror yang sebagaimana mestinya. Namun sayangya masih banyak kekurangan di sana sini yang mengganjal dan membuatnya menjadi agak hambar. Namun saya percaya, Awi Suryadi adalah sineas tanah air yang kedepannya mampu menghasilkan karya-karya yang lebih baik dan berusaha benar-benar membangkitkan kembali kejayaan film horror lokal.

Related posts: