Review: Beauty And The Beast (2017)

Tahun 1991 film animasi Disney Beauty and The Beast yang diangkat dari dongeng fairy tail asal perancis itu berhasil mendapatkan kesuksesan yang luar biasa dari segi finansial maupun kritik dari para kritikus dunia. Alunan lagu yang indah dari Celine Dion bersama dengan Peabo Bryson menambah indah dan suasana romance dalam film tersebut hingga meraih dua piala Oscar. Kini Disney seakan gemar membuat ulang karya-karya yang diangkat dari dongengnya ke dalam bentuk live action dengan teknologi yang canggih. The Junggle Book (2016) dan Cinderella (2015) adalah bukti bagaimana Disney ternyata mampu me-remake sebuah film sebagaimana mestinya dan tidak membuatnya menjadi buruk seperti film-film remake kebanyakan.

Kini Disney memilih untuk mengangkat kembali kisah dongeng si cantik dan si buruk si rupa ke permukaan. Peran Belle dipercayakan kepada aktris cantik yang terkenal lewat perannya sebagai Hermione dalam seri Harry Potter, Emma Watson. Peran Beast dipercayakan pada aktor yang kini sedang naik daun di dunia Hollywood, Dan Stevens. Mereka berdua akan melewati kisah yang pasti hampir semuanya sudah pada tahu karena dongeng ini sangat terkenal. Posisi sutradara yang dipercaya untuk menggarap film ini adalah Bill Condon yang sebelumnya pernah menangani dua saga terakhir Twilight.  Untuk urusan naskah ditulis oleh dua orang, Stephen Chbosky danvEvan Spiliotopoulos yang  masih setia pada cerita asli dengan mengadaptasi dari karya klasik Jeanne-Marie Leprince de Beaumont.

Ceritanya masih berpegangan pada versi animasinya, bahkan saya sendiri pun tidak begitu melihat banyak perbedaan yang mencolok dengan versi originalnya. Bele (Eamma Watson) adalah seorang gadis desa yang cantik dan mempunyai kegemeran membaca dan juga menari & menanyi, suatu ketika dia harus bertukar posisi dengan ayahnya sendiri, Maurice (Kevin Kline) untuk menjadi seorang tawanan mahkluk berwajah buruk rupa seperti bison , Beast ( Dan Stevens) yang tinggal di istananya yang menyeramkan dan merupakan sebuah tempat yang terkutuk. Dan apa yang terjadi selanjutnya mudah ditebak, hubungan Belle dan Beast perlahan kian dekat yang pada awalnya Belle sangat takut pada Beast tapi lama-lama Beast ternyata tidak seburuk penampilannya yang super menyeramkan itu kemudian Belle si gadis cantik nan anggun yang baik hati itupun  lantas perlahan mampu membuat hati Beast luluh dan jatuh cinta padanya. Belle kemudian harus menjawab cinta si pangeran terkutuk tersebut supaya nantinya kutukan yang diberikan pada Beast dan seluruh penghuni istana menyeramkan tersebut bisa dicabut, tapi harus sebelum kelopak bunga mawar ajaib yang terakhir jatuh, jika tidak maka akan terjadi akhir kehidupan mereka semua.

baca juga:  Review: Assassin's Creed (2016) Adaptasi Game Yang Bikin Bingung

Beauty and the Beast versi 1991 memang sangat fenomenal dan akan sangat sulit sekali untuk dilupakan karena memang sangat indah dan memorabel. Meskipun pada waktu itu masih menggunakan animasi klasik 2 dimensi dan sedikit sekali sentuhan CGI, tapi nyatanya film ini  sukses memberikan karakter penuh simpatik dan clumsy  pada karakter Beast dan karakter Disney Princess, Bella. Ditambah alunan lagu nan indah dan masuk ke hati memikat yang dinyanyikan oleh dua penyanyi bersuara emas, Celine Dion dan Peabo Bryson semakin membuat film itu menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi siapa saja yang menontonnya. Lalu, apakah Disney mampu mengulang itu semua dengan versi “manusianya?” dengan Didukung oleh taburan asal Inggris yang dengan nama-nama terkanal, Beauty and the Beast  versi live action ini mungkin agak hambar akibat naskahnya yang sangat setia pada versi animasinya. Mungkin ini dilakukan agar para fans tidak marah jika ceritanya diubah dan menjadi agak aneh juga.  Beauty and the Beast ini bisa dibandingkan dengan Cinderella atau The Jungle Book, yang sama-sama masih setia mengikuti  skenario animasinya dan setia pada kisah ataupun dongeng aslinya. Akan tetapi plotnya agak sedikit tersendat pada hubungan Belle dengan Beast yang notabenenya adalah dilapisi CGI. Hubungan pengembangan chemisrty antara Belle dan Beast saya lihat agak instan dan sedikit dipaksakan.

Akan tetapi bukan Disney namanya kalau tak mampu memberikan “sihir” dan magis kepada penonton melalui adegan visual yang memanjakan mata serta alunan musik yang indah dan tari-tarian dari para karakternya membuat film ini membangkitkan kembali kisah negeri dongeng tersebut. Aksi dari Lumiere, adegan pembuka Belle dan warga kampungnya Villeneuve di awal film,lalu ada nyanyian narsis dari Gaston (Luke Evans) dan LeFou (Josh Gad), hingga adegan terkenal nan ikonik yaitu adegan dansa Belle dan Beast masih mampu menyentuh hati penonton. Selain Emma Watson dan  Dan Stevens yang ternyata mampu memberikan  skill vokalnya di atas rata-rata, tampilan para karakter pendukungnya  pun mampu memberikan nuansa tersendiri dan memberikan warna pada filmnya.. Emma Thompson, McGregor, Ian McKellen, Gugu Mbatha-Raw, Audra McDonald, Stanley Tucci, sampai Kevin Kline semuanya memberikan penampilan dan kemampuan terbaiknya dalam film ini, meskipun ada adegan yang sedikit kontroversial namun adegan tersebut mampu memberikan keberagaman warna dalam film ini.

baca juga:  Review: Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016) Kembali ke Dunia Sihir Harry Potter

Dibumbui dan Dihias oleh musik-musik bernuansa megah yang digubah oleh  komposer besar  Disney, Alan Menken, Beauty and the Beast adalah sebuah  karya yang mewah dan megah, menghibur, akan tetapi tak cuma menghibur, film ini juga masih meninggalkan pesan moral dan kesan pada sentuhan ala Disney yang punya ciri khas yang kuat. Film ini adalah sebuah sajian yang sangat pas sebagai film dongeng untuk sebuah keluarga walaupun ceritanya repetitif dan tidak ada hal yang baru kecuali kecanggihan teknologi yang mampu memanjakan mata.

Artikel Seru Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi