Review Movie

Review Batman v Superman: Dawn Of Justice

Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah perfilman superhero, dua anak emas kebangaan DC Comics akhirnya bisa bertemu dalam satu layar salam sebuah versi live action. Penyebab utamanya DC menginginkan hal ini adalah mungkin karena sudah terlanjur kepanasan melihat saingannya, Marvel yang super sukses lewat MCU-nya. Film Man Of Steel (2013) ternyata adalah awal dari DC Extended Universe untuk menyaingi sang rival abadi.

Christopher Nolan dengan sangat tegas tidak mau terlibat dalam mega proyek ini karena menurutnya, tugasnya membangkitkan kembali Batman sudah selesai dan dia tidak mau berurusan dengan superhero lagi, Nolan tidak mau mengotori tangannya untuk mengobok-obok kembali tugas yang sudah sempurna itu.

Alhasil pihak Warner Bros tetap mempercayakan film ini pada Zack Snyder yang terbukti lagi-lagi adalah sebuah blunder yang cukup fatal. WB tidak belajar dari hasil Man Of Steel yang Snyder ciptakan. Namun sedikit tepat bila harus menyerahkan kostum kelelawar pada seorang Ben Affleck. Meski pada awalnya Affleck dihujat habis-habisan dam dituntut untuk mundur dari perannya sebagai Bruce Wayne.

Apa yang dirasa terlalu berlebihan dalam pertempuran Superman dan General Zod dalam Man Of Steel yang memporakporandakan kota Metropolis ternyata bukan tanpa alasan. Hal inilah yang menjadi pemicu amarah Bruce Wayne (Ben Affleck) karena alien dari Krypton tersebut dianggap sebagai biang keladi dari banyak tewasnya korban-korban yang tidak bersalah dan memprovokasi masyarakat bahwa Superman dapat menjadi ancaman  bagi bumi.Di sisi lain, Clark Kent (Harry Cavill) juga tengah membenci Batman yang dianggapnya melakukan hal yang sewenang-wenang dan dianggap main hakim sendiri pada para penjahat yang ditangkapnya di kota Gotham. Melihat situasi ini, Lex Luthor (Jesse Essenberg) mencoba untuk mengadu domba dua pahlawan super itu sekaligus menjalankan ambisinya yang bisa dikatakan sakit jiwa. Klise? berantakan? maksa? gaje? Jawabannya tentu saja adalah YA!

Akting yang baik dan mumpuni dari jajaran cast termasuk si seksi yang memerankan Wonder Woman (Gal Gadot) tidak diimbangi dengan kualitas naskah yang bermutu. Terlalu banyak yang bolong di sana-sini dan saya dibuat bingung dengan jalan cerita yang dipaksa untuk bertumpuk-tumpuk dan arah tujuannya entah ke mana.

Namun, hal amburadul di atas sedikit terbantu dengan kualitas visual effect yang tinggi dan adegan pertempuran yang seru. Di tengah cerita, juga dimunculkan referensi tentang akan dimunculkannya Justice League. Yaitu ketika file data rahasia Lex Luthor yang dicuri oleh Diana Prince a.k.a Wonder Woman memperlihatkan para Meta Human yang nantinya akan bergabung dengan Justice League.

Ben Affleck ternyata mampu memerankan Bruce Wayne dengan baik, diceritakan di sini kalau dia sudah puluhan tahun menjadi Batman dan menderita trauma atas tewasnya Robin yang dibunuh oleh Joker. Batman dalam film ini terlihat lebih brutal dari versi Nolan, dan ternyata banyak fans yang menyukai Batman versinya Ben Affleck. Terlepas dari cerita yang sungguh amburadul, Snyder sedikitnya mampu membangun Universe yang akan menjadi fondasi film-film DCEU ke depannya.

Kesalahan terbesar dari BvS hanyalah terletak pada naskah dan penceritaan, point-point yang lain seperi karakter, Batmobile baru, dan adegan-adegan pertarungan selebihnya tidak ada masalah. BvS jelas bukan The Dark Knight yang nyaris sempurna itu, tapi seharusnya film yang menjadi gerbang awal menuju dunia DCEU bisa jauh lebih baik dari ini agar fanboys Marvel tidak melulu mencaci maki DCEU.

Zack Snyder, i hate you…!!