Review: Assassin’s Creed (2016) Adaptasi Game Yang Bikin Bingung

Sejak dirilis pada tahun 2007 oleh Ubisoft, video game Assassin’s Creed langsung disambut dengan positif poleh para gamer di seluruh dunia karena orisinilalitasnya. Game yang memfokuskan perseteruan abadi antara Assassin dan Templar ini terus memunculkan sekuel hingga Assassin’s Creed: Syndicate pada tahun 2016.

Ubisoft tampaknya ingin mencoba sesuatu yang dibilang nekat, yaitu membawa Assassin’s Creed (AC) ke medium layar lebar walaupun sudah menjadi rahasia umum bahwa film-film yang diadaptasi dari video game sejauh ini belum ada yang benar-benar memuaskan. Ubisoft meyakini bahwa Assassin’s Creed akan memecahkan “kutukan” itu, namun sayang seribu sayang. AC malah menambah panjang rentetan film adaptasi video game yang berakhir mengecewakan. Saya sebagai gamer yang telah memainkan seri AC pun dibuat mengerutkan kening dan nyaris tertidur ketika menonton film ini.

Karena film ini mengambil universe yang sama dengan yang ada di video gamenya, saya akan membahas terlebih dahulu cerita yang ada di gamenya supaya para non gamer tidak kebingungan seperti yang sudah dibahas di forum-forum. Game Assassin’s Creed (AC) pertama dirilis oleh Ubisoft pada tahun 2007 dan menceritakan di dunia modern, Desmond Miles mengakses memori leluhurnya menggunakan animus guna mencari tahu keberadaan Apple of Eden yang tengah diburu oleh templar. Desmond mengakses memori leluhurnya yang seorang Assassin bernama Altair Ibn La’Ahad di zaman perang salib di kota Masyaf. Gamenya kemudian berlanjut ke Assassin’s Creed II (2009) yang masih menceritakan Desmod Miles yang mengakses memori leluhurnya seorang Assassin asal Italia, Ezio Auditore. Instalasi kedua dari seri game kedua AC ini dianggap yang terbaik dan merupakan game AC dengan cerita dan penokohan yang akan terus melekat di hati gamer yang memainkannya. AC III yang dirilis tahun 2012 merupakan ser AC terakhir yang menceritakan Desmond Miles dan mengisahkan dia harus mengakses memori Assassin bernama Connor Kenway pada zaman perang kemerdekaan Amserika Serikat.Pada AC IV, tokoh Desmond Miles sudah meninggal dan alat Animus yang dipakai oleh Desmond dibawa dan diteliti oleh sekelompok orang kemudian mendirikan yayasan bernama Abstergo yang bertujuan untuk membantu orang-orang yang ingin mengakses memori para leluhurnya di masa lalu. Tidak ada yang harus diceritakan di AC IV Black Flag sampai AC: Syndicate karena di sini para pemain akan bermain sebagai dirinya sendiri yang masuk ke Abstergo untuk mengakses memori Assassin di masa lalu.

baca juga:  9 Fakta Unik Tentang Marvel Cinematic Universe

Ketika pertama kali Ubisoft mengumumkan bahwa AC akan difilmkan banyak yang mengira bahwa filmnya akan langsung mengisahkan kisah Desmond Miles, Altair atau kisah Ezio yang sangat berkesan itu. Tapi Ubisoft memilih jalan lain untuk mengisahkan cerita baru yang tidak ada di dalam gamenya meski mengambil univers yang sama dengan timeline yang berbeda.

Dengan naskah yang ditulis Michael Lesslie, Adam Cooper, dan Bill Collage dan dieksekusi oleh Justin Kurzel, AC terasa begitu hambar dan sangat berbeda dengan versi video gamenya. Film AC kali ini mengambil setting masa kini dan zaman Inkuisisi Spanyol atau berpuluh-puluh tahun sebelum Ezio Auditore lahir dan ratusan tahun setelah Altair wafat. Film diawali dengan diterimanya Aguilar De Narha sebagai anggota Assassin dan mengucapkan sumpah setia. Adegan lalu berpindah ke mas modern di mana Callum Lynch ( Michael Fassbender) hendak dihukum mati atas dakwaan bahwa dia telah membunuh ibunya. Lynch dihukum mati dengan cara disuntik mati. Tapi saat dia terbangun, dia menyadari dirinya masih hidup dan dihadapkan dengan orang-orang banyak, Lynch diberi tahu bahwa dirinya sedang berada di yayasan Abstergo. Sebuah yayasan yang saya sudah ceritakan di atas.

Tujuan Lynch dibawa ke Abstergo oleh Sophia Rikkin (Marion Cotillard) adalah untuk membantu mereka mencari keberadaan Apple Of Eden yang diincar oleh para Templar. Lynch dipaksa harus mengakses leluhur Assassinnya di tengah suram kehidupan dirinya. Lynch harus menggunakan Animus untuk bisa masuk ke memori Aguillar, Assassin yang hidup di era inkuisisi spanyol yang pada saat itu diyakini Templar dan Assassin tengah berperang memperebutkan Apple of Eden. Apa itu Apple of Eden sehingga menjadi rebutan semua orang? Apple of Eden adalah sebuah benda kuno yang diyakini bisa mengendalikan pikiran dunia dan akam sangat berbahaya bila jatuh ke tangan templar.

baca juga:  Review: Halloween (1978) Film Pelopor Slasher-Horror

Dari awal sampai akhir saya tidak bisa menikmati film ini dengan baik, selain kualitas naskah yang terkesan tidak fokus dan terlalu memaksakan konflik-konflik yang ada, sebagai gamer AC saya juga dibuat heran dan kecewa dengan cerita yang seperti ini. Abstergo juga dibuat sangat berbeda dengan yang ada di gamenya, Abtergo di sini seakan-akan menjadi neraka.

Kemudian yang kedua adalah Animus yang jelas-jelas jadi ngaco, sudah sangat jelas di video game alat animus bukanlah seperti benda bodoh yang ada di film.

Memakai aktor-aktor dengan nama besar dan kualitas akting yang mumpuni tak cukup untuk menutupi semua kekurangan yang ada di film. Efek CGI yang dirasa masih kasar, adegan pertarungan yang sangat terasa hambar hingga aksi loncat-loncatan ala Assassin yang kurang dapet feelnya (ketahuan bohongnya). Scene di zaman inkuisisi spanyol pun hanya sekitar 35% dan sisanya berkutat di Abstergo yang sangat menjemukan.

Kesalahan terbesar dalam film ini adalah ada pada naskahnya, dari awal sampai akhir jujur saja saya ingin segera tidur saja karena saking ngantuknya. Tidak ada nuansa khas Assassin’s Creed seperti yang selalu ada dalam setiap seri video gamenya. Iringan musiknya pun tidak serta merta membuat saya merasa ikut masuk dalam cerita, masih lebih bagus musik-musik yang ada di dalam gamenya.

Cerita Ezio Auditore yang begitu memukau tidak akan pernah ditemukan di dalam film ini, Aguillar sang Assassin dari Spanyol seakan hanya menjadi bumbu penyedap.

Film AC ini mengecawakan kedua kubu. Kubu gamer yang kecewa karena berbeda nuansa dengan di video gamenya, dan kubu non gamer yang sudah jelas akan kebingungan. Film ini tidak akan cocok ditonton sekalipun hanya untuk melihat adegan pertarungan yang heboh dan hambar itu.

baca juga:  Review: HeadShot (2016) Penuh Dengan Kebrutalan

Sudahlah, sampai kapan film adaptasi game akan berakhir seperti ini?

Skor: 4.0/10

Artikel Seru Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi