Review: Logan (2017) Perpisahan Yang Emosional

Tidak ada lagi anggota X-Men yang rame-rame pamer kekuatan, tidak ada lagi permusuhan Charles dan Eric alias Magneto, tidak ada lagi perjalanan waktu, tidak ada lagi petualangan Wolverine yang bertamasya ke negeri sakura. Yang ada hanya kisah penuh dengan drama dengan nuansa yang kelam dan menguras emosi sepanjang 137 menit. Setelah kecewa dengan Origins Wolverine pada tahun 2009 yang berantakan itu, lalu di film keduanya yang ditangani oleh James Mangold, The Wolverine (2013) yang diajak jalan-jalan ke Jepang dengan petualangan yang dirasa masih hambar, akhirnya James selaku sutradara tahu apa yang sebagaimana mestinya dilakukan dalam film terakhir dari Hugh Jackman sebagai James Logan. Nampaknya Mangold adalah sutradara yang bisa mendengar kritikan semua orang dan menjawabnya dengan hasil kerja yang sangat memuaskan. Terlebih film ini adalah yang terakhir bagi Hugh Jackman untuk memerankan karakter Wolverine sejak kemunculan pertamanya pada tahun 2000 yang lalu, sekaligus film ini dijadikan perpisahan Patrick Stewart yang memerankan Charles Xavier untuk terakhir kalinya.

Seperti yang saya sebutkan di atas, Logan menyajikan nuansa kelam yang akan menguras emosi. Berlatar di tahun 2029, mutan diambang kepunahan karena suatu virus. Mutan yang masih tersisa yang jumlahnya sangat sedikit bersembunyi dan tidak berani menampakan diri. Termasuk James Logan (Hugh Jackman) yang tinggal bersama Charles Xavier (Patrick Stewart) di sebuah pemukiman yang gersang. Tidak ada lagi X-Men yang dulu terlihat gagah, tidak ada X-Mansion, semuanya sudah hancur dan punah dan hanya tersisa kesuraman. Baik Logan maupun Charles, keduanya kini mulai menua. Kekuatan Logan perlahan mulai dirasakan menghilang, sementara Charles yang kini berusia 90 tahun mengalami penyakit Alzheimer yang mengakibatkan dirinya sulit untuk mengendalikan kekuatan telekinesis miliknya yang mulai melemah. Kondisi Charles cukup memprihatinkan dan membuat saya mengingat kembali Charles di film-film sebelumnnya yang berbeda cukup jauh. Logan sehari-harinya berprofesi sebagai sopir Taxi Limo Online (bisa dikatakan jadi sopir uber). Tidak hanya itu, ternyata Logan juga tinggal bersama mutan yang masih tersisa, Caliban (Stephen Merchant) yang kini dia akan hangus jika terkena sinar matahari.

baca juga:  Review: Back To The Future (1985)

Konflik baru terjadi ketika Keduanya kedatangan  seorang gadis kecul bernama Laura (Dafne Keen), gadis tersebut ternyata adalah mutan yang punya kekuatan yang sama dengan Logan. Dari sinilah perjalanan hidup Logan yang sebenarnya dimulai dalam film ini. Yang akan membuka kenyataan bahwa film ini bukanlah film yang dibuat untuk jingkrak-jingkrak kegirangan sambil makan pop corn seperti film-filmnya MCU. Mereka dikejar-kejar oleh tentara bayaran yang dipimpin oleh Donald Pierce (Boyd Holdbrook) yang menginginkan anak itu.

Para penonton seolah diberikan kenyataan yang memang pahit bahwa film ini bernuansa suram namun tetap memikat dan layak untuk ditonton. Keputusan Mangold untuk memberikan rating Restricted yang artinya memberikan mereka kebebasan untuk menjual adegan-adegan sadis seperti kepala terpenggal, tubuh terpotong ataupun otak yang terkena cakar Logan menghiasi film ini namun disampaikan dengan cara cantik dan elegan. Naskah yang ditulis oleh James Mangold dan Scott Frank sudah jelas menjadi kekuatan utama film ini dengan cara merajut konflik yang tidak menyebar kemana-mana seperti dua film sebelumnya yang menjemukan itu. Adegan di hotel saat Charles dan Laura diserang oleh musuh yang jumlahnya banyak yang mengakibatkan Charles mengeluarkan kekuatannya dengan tak terkendali kemudian Logan berusaha mengatasinya itu jujur saja membuat saya ikut menahan nafas dan tegang lalu mengehembuskan nafas lega ketika adegan tersebut berakhir. Itu salah satu hebatnya film ini, mampu membuat saya ikut merasakan apa yang para tokoh dalam film rasakan. Adegan tersebut merupakan adegan paling memorabel buat saya.

Setelah penoton selesai menonton film ini mungkin akan banyak yang menanggapi begitu egoisnya Mangold menggarap film ini sampai-sampai harus “membantai” semua anggota X-Men hingga yang tersisa hanya mereka berdua, Mangold seakan-akan “tidak menghargai” apa yang dikerjakan Bryan Singer lewat Days Of Future Past (2014). Ya, usaha yang dilakukan oleh Logan dalam DOFP ternyata sia-sia belaka lewat film ini, karena ternyata para mutan tetap saja punah walau tanpa kehadiran sentinel hanya saja manusia tidak ikut punah. Mangold membuat kenyataan pedih di mana alih-alih menceritakan anggota X-Men yang lain pasca X-Men Apocalypse, Mangold malah membuat univesre yang seakan-akan dia buat sendiri. Akan tetapi semua itu bisa dimaafkan dan dimaklumi karena ternyata seperti inilah film terakhir Wolverine dibuat. Bagaimana dengan si gila Deadpool? tidak dijelaskan bahkan tidak disebutkan sedikitpun dalam film.

baca juga:  Review: Rear Window (1954) Sederhana Tapi Menegangkan

Akting Patrick Stewart yang harus memerankan Charles Xavier yang lebih tua darinya dilakukan dengan sangat baik, Stewart berhasil menarik simpati penonton yang memang sudah terikat secara emosi mengingat ia sudah memerankan sosok Profesor X sejak film pertamanya pada tahun 2000 yang lalu. Stewart berhasil memerankan Charles yang sudah sangat rapuh dan membuat hati penonton ikut tersentuh.

Mangold menuturkan film ini dengan alur yang bertempo sedang terutama mengekspos hubungan Logan dan Charles yang sudah seperti ayah dan anak lalu pertemuannya dengan  Laura dan segala pengembangan karakternya. Kita sebagai penonton yang sudah lama dekat dengan Charles dan anggota X-Men-nya seakan-akan sangat peduli dan merasakan suasna keluarga diantara mereka bertiga.

Tapi Mangold ingin memberikan tontonan yang tak hanya penuh dengan drama yang sentimentil dan menguras emosi di tengah nuansa yang gelap, tapi juga memamerkan aksi-aksi brutal seperti darah muncrat kemana-mana, kepala pecah, tubuh terpotong, kepala copot dan adegan sadis lainnya yang mewarnai di sepanjang film yang rasanya adegan tersebut hanya mampu diimbangi oleh Deadpool namun tentunya dengan tone yang berbeda. Overall, Logan adalah sebuah film penutup trilogi Wolverine yang memang dibuat sebagaimana mestinya sekaligus penebusan kesalahan atas dua film sebelumnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi

CommentLuv badge