Buku

Review Buku: “Urgent Wedding” by Marlina Lin

Judul Buku: Urgent Wedding

Penulis: Marlina Lin

Penerbit: Grasindo

Jumlah Halaman: 176

Genre: K-Fiction, Romance

Sinopsis:

Bagi Sun-hee yang miskin, pernikahan dengan putra konglomerat bernama Ji-Hoon merupakan sebuah bencana. Apalagi pernikahan itu dilakukan sebagai kompensasi sebuah Porsche yang sengaja ia tabrak dalam keadaan mabuk. Pria itu juga mengatakan ‘jatuh cinta pada pandangan pertana’ saat melihat kecantikannya. Padahal malam itu, penampilan Sun-Hee yang sedang mabuk terlihat sangat mengerikan! Tapi apa benar Ji-Hoon tertarik pada Sun-Hee hanya karena kecantikannya? Atau mungkin karena hal lain yang disembunyikan pria itu? Lalu, setelah Sun Hee melarikan diri dari rencana pernikahannya justru menimbulkan masalah yang lebih fatal dan rumit.

Review: 

Peringatan, review ini mengandung spoiler!!!

Cak Lontong pernah bilang, hidup kamu itu tidak akan seindah drama Korea. Memang benar adanya, kehidupan yang serba kebetulan dan sedikit absurd memang hanya ada dalam serial drama Korea dan juga di dalam sebuah Buku!

Ya, sekarang ini banyak penerbit buku yang menerbitkan novel bergenre K-Fiction (Korean Fiction) di mana novel tersebut adalah fiksi Korea yang ditulis oleh orang Indonesia. K-Fiction ternyata sedang menjamur di Indonesia seiring dengan Korean Wave yang tak pernah surut. K-Fiction bisa dibilang “Drakor dalam bentuk buku yang ditulis oleh orang Indonesia.” Tidak sulit mendapatkannya, di Gramedia saja buku-buku K-Fiction tertata rapi di rak buku-buku romance.

Ngomong-ngomong, sebelumnya saya belum pernah membaca K-Fiction karena sudah terbiasa novel-novel terjemahan ataupun novel Indonesia klasik. K-Fiction yang membuat saya tertarik adalah “Urgent Wedding” karya Marlina Lin. Buku ini merupakan buku pertama alias novel Debut dari seorang Marlina Lin. Novel ini berisikan 15 bab lalu ditambah prolog dan epilog dan semua totalnya 176 halaman. Diterbitkan oleh penerbit terkemuka di Indonesia, Grasindo.

Cerita diawali dengan pengenalan tokoh Sun-Hee yang merupakan gadis berusia dua puluh tiga tahun yang miskin kemudian perlahan memasuki konflik awal. Sun-Hee yang dalam keadaan mabuk berat menabrak mobil porsche milik anak pengusaha super kaya, Kang Ji-Hoon. Cekcok ala FTV pun terjadi, Ji-Hoon menuntut ganti rugi pada Sun-Hee. Tapi tentu saja Sun-Hee tidak akan sanggup membayar mobil yang harganya ribuan kali lipat dari sepeda motor itu, Ji-Hoon memberikan opsi yang dibilang gila, yaitu mengajak Sun-Hee menikah sebagai bentuk ganti rugi. Klise? Tidak juga. Mungkin inilah salah satu pakem atau ciri khas dari K-Fiction, gadis miskin bertemu pria kaya, sang gadis melakukan kesalahan pada si pria, bertengkar, cek-cok, tapi kemudian saling jatuh cinta di akhir. Ya, kira-kira seperti itulah.

Nyaris separuh dari cerita, sang penulis menuturkan dan mendalami konflik internal yang ada di dalam tokoh Sun-Hee. Seorang yang benci setengah mati jika dia harus menikah dengan pria yang tidak dicintainya, meskipun pria tersebut adalah pria yang super kaya. Hingga shocking moments pun terjadi di pertengahan cerita ketika Sun-Hee melarikan diri di hari pernikahannya. Sun-Hee bertemu dengan Gyo Tae Woo, seorang pria yang merupakan sahabatnya Ji-Hoon dan dia adalah seorang bintang terkenal di Korea. Sun-Hee meminta bantuan Tae Woo untuk melarikan diri dari pernikahannya menggunakan mobil. Karena sesuatu hal, terjadi perdebatan diantara Sun-Hee dan Tae Woo, dan mobil yang dikendarai oleh Tae Woo itu mengalami kecelakaan fatal. Tae Woo tewas. Yoo-Na yang merupakan kekasih Tae Woo sangat terpukul dan kemudian dendam dan sangat membenci Sun-Hee. Di sini lah konflik yang sebenarnya terjadi.

Mungkin karena  namanya juga K-Fiction, saat saya membaca buku ini, saya serasa nonton drama Korea di TV Nasional karena memang nuansa drakornya sangat kental. Diksi dan kosakata yang digunakan Marlina Lin juga terbilang ringan tapi tidak membosankan. Dari segi cerita, mungkin tidak ada yang spesial tapi saya suka cara penulisan dan eksekusi yang dilakukan penulis buku ini. Selain itu, terlalu banyak kebetulan yang membuat saya mengerutkan kening seperti orang tuanya Sun-Hee dan  orang tuanya Ji-Hoon ternyata dulunya bersahabat dan sangat dekat. Dan Restoran tempat Sun-Hee bekerja ternyata CEO-nya adalah mantan kekasihnya, dan banyak kebetulan-kebetulan lainnya. Tapi saya tidak tahu apakah yang seperti itu adalah hal yang lumrah dalam K-Fiction.

Novel ini termasuk dalam novel singkat karena tidak sampai 200 halaman, konflik yang diekspos secara besar-besaran pun lebih menekankan pada konflik internal dari si tokoh utama. Entah kenapa saya kurang menyukai ending dan penyelesaian masalah di akhir novel, sepertinya kurang gereget gitu. Transisi dari Sun-Hee membenci Ji-Hoon yang berubah menjadi kebalikannya dirasa sangat cepat dan kurang realistis. Dan yang paling saya suka adalah konflik antara Yoo-Na dan Sun-Hee, di sini sangat terasa sekali feel-nya.

Tapi secara kesuluruhan, saya menikmati cerita dalam buku K-Fiction.Tidak bijak rasanya kalau membandingkan penulis yang baru saja merilis novel debutnya dengan penulis tingkat dewa yang sudah senior. “Urgent  Wedding” direkemondasikan buat kamu yang suka K-Fiction ataupun drama Korea.