Review Film: Kimi No Wa (2016)

Keindahan visual yang nyaman dipandang mata, cerita yang bikin baper, dan pemilihan soundtrack yang tepat menjadikan Kimi No Na Wa alias Your Name sukses di pasaran baik secara komersil maupun kritik. Berikan standing applause untuk Makoto Shinkai, sang sutradara yang disebut-sebut sebagai New Miyazaki, walaupun dirinya menolak disejajarkan dengan maestro Studio Ghibli tersebut.

 

Taki dan Mitsuha. Sepasang remaja yang bertukar tubuh secara misterius dan saling jatuh cinta. ciyee..?????

Karakterisasi yang sangat rapih dan cerita yang mudah dimengerti serta adegan-adegan dengan kualitas animasi tingkat tinggi membuat Kimi No Na Wa enak untuk ditonton, termasuk penonton Indonesia yang beberapa waktu lalu bisa menyaksikannya di bioskop. Makoto Shinkai membuat Kimi No Na Wa seolah-olah menjadi kebalikannya 5cm per second. Mengapa kebalikannya? Apakah ┬ákarena 5cm per second yang juga karya Shinkai itu jelek? Tidak sama sekali. 5 cm per second bagus, tapi dari segi cerita dan intinya, Kimi No Na Wa adalah kebalikan dari 5 cm per second. Jika dalam 5 cm per second kita disuguhkan cerita nan super baper mengenai dua sejoli yang sudah saling mengenal dekat tapi akhirnya terpisah karena sesuatu hal, Kimi No Na Wa seperti “penebus” dosa Shinkai setelah membuat penonton ‘trauma’ akibat dari ending 5 cm per second.

Mitsuha Miyamizu adalah seorang siswi SMA yang tinggal di desa bersama nenek dan adiknya, desa itu adalah desa fiktif bernama Itomori. Mitsuha merasa hidup di desa semakin membosankan dan dia berharap dia bisa terlahir kembali menjadi seorang laki-laki di Tokyo, kota yang menjadi dambaan Mitsuha. Kemudian Taki Tachibana yang merupakan siswa SMA terbangun dari tidurnya dan terkejut lalu menyadari bahwa dirinya berada dalam tubuh Mitsuha. Entah bagaimana mereka bisa bertukar tubuh.

baca juga:  Star Wars Episode V: Empire Strikes Back (1980)

Taki dalam tubuh Mitsuha. Dia merasa aneh dengan apa yang ada di dadanya ????

Dan bisa ditebak, Mitsuha terbangun dalam tubuh Taki. Untuk selanjutnya mereka berganti-ganti tubuh setiap mereka bangun tidur dan mulai terbiasa. Mereka berdua berkomunikasi lewat memo di ponsel mereka untuk dapat saling mengenal satu sama lain. Apakah mereka dapat saling bertemu?

Konsep tukar tubuh alias body swap memang bukanlah hal baru dalam tema sebuah anime, tapi yang membuat Kimi No Na Wa berbeda adalah segi cerita yang dipadukan dengan musik yang membuat hati penonton begitu menikmati karya dari seorang Makoto Shinkai ini. Penonton dibuat nyesek dan resah di pertengahan film saat kedua karakter berusaha keras untuk saling bertemu dan usaha Taki yang ingin menyelamatkan Mitsuha.

Kesuksesan Kimi No Na Wa berlanjut dengan tergusurnya Spirited Away sebagai film terlaris sepanjang masa di Jepang. Film legendaris Studio Ghibli itu harus tumbang dari puncak oleh Kimi No Na Wa. Menariknya Shinkai mulai resah dengan terus larisnya Kimi No Na Wa, karena tak mau karyanya menjadi overrated. Kalau boleh berpendapat, memang agak berlebihan kalau  mengatakan Makoto Shinkai dengan Kimi No Na Wa-nya lebih baik dari sederet film-film fantastis dari Studio Ghibli. Tapi kita lihat positifnya, industri anime di Jepang kini mulai bergeliat lagi, ditambah dengan kembalinya Hayao Miyazaki untuk berkarya. Mungkin karena beliau panas melihat Kimi No Na Wa begitu sukses. hahaha..?

Kesimpulannya adalah Kimi No Wa adalah sebuah film yang mempunyai kualitas visual tingkat maksimal, cerita yang khas dan memberikan dampak psikologis naik turun ketika menontonnya. Jika ada waktu untuk menontonnya dan anda belum nonton, saya sarankan anda untuk menonton salah satu film anime terbaik ini.

baca juga:  Review: Hacksaw Ridge (2016) Bukan Film Perang Biasa

Skor

8.5/10

Artikel Seru Lainnya:

Comments

  1. By Maurana Yushu

    Balas

    • By Hilman Sky

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi