Featured

Resensi Buku: Trilogi Negeri 5 Menara (2009, 2011, 2013)

Postingan ini akan membahas tiga buku sekaligus yaitu Trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Yang terdiri dari Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna dan Rantau 1 Muara, yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. 

Kebetulan saya membeli paket box trilogi Negeri 5 Menara edisi khusus dengan bentuk box yang unik seperti gambar di bawah.

Ketiga buku tersebut menceritakan parjalanan hidup seorang Alif Fikri yang terinspirasi dari kisah asli penulis, Ahmad Fuadi. 

Buku pertama menceritakan bagaimana Alif berjuan di pondok pesantren Madani, buku kedua mengisahkan Alif yang susah payah kuliah di Bandung dan pergi ke negeri Maple, Kanada. Dan buku ketiga mengisahkan Alif yang pergi ke Amerika Serikat serta kisah cintanya dengan Dinara. 
Negeri 5 Menara

Sinopsis:

Alif Fikri, masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok. Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak mengigau dalam bahasa Inggris, dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara. Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar. Bagaimana perjalanan mereka ke ujung dunia ini dimulai? Siapa horor nomor satu mereka? Apa pengalaman mendebarkan di tengah malam buta di sebelah sungai tempat jin buang anak? Bagaimana sampai ada yang kasak-kusuk menjadi mata-mata misterius? Siapa Princess of Madani yang mereka kejar-kejar? Kenapa mereka harus botak berkilat-kilat? Bagaimana sampai Icuk Sugiarto, Arnold Schwarzenegger, Ibnu Rusyd, bahkan Maradona sampai akhirnya ikut campur? Ikuti perjalanan hidup yang inspiratif ini langsung dari mata para pelakunya. Negeri Lima Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi.
Review:

Buku pertama ini mengangkat ‘mantra’ Man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil. Sudut pandang orang pertama yang digunakan dalam novel ini membuat pembaca mendalami semua emosi yang dirasakan Alif Fikri, mulai dari dia ‘terpaksa’ harus menuruti orang tuanya untuk masuk pesantren setelah lulus SMP dan tidak masuk SMA, padahal SMA adalah gerbang awal impian Alif untuk masuk ke ITB. 

Randai yang merupakan sahabat sekaligus rival dari Alif beruntung bisa masuk SMA dan disadari atau tidak membuat Alif iri.

Penggambaran Pondok Madani yang menjadi latar cerita buku pertama digambarkan dengan sangat baik oleh penulis. Pembaca seakan-akan ikut-ikutan ‘nyantren’ dan merasakan hawa sebuah ponpes yang diyakini terinspirasi oleh Pondok Gontor. 

Pertemanan Alif dengan rekan-rekannya yang tergabung dalam Sahibul Menara juga membuat pembaca asik mengikuti kisahnya. Seperti Alif dan kawan-kawannya dihukum karena telat, jaga malam, dan menjadi ‘intel’ untuk mencatat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan anak-anak yang lainnya. 

Suasana kehidupan pondok yang terkenal keras dan berdisiplin tinggi ala militer, pada awalnya membuat Alif tertekan ditambah dengan datangnya surat-surat dari Randai yang mengabarkan betapa menyenangkannya kehidupan di SMA. 

Di Pondo Madani Alif diberikan motivasi yang sangat hebat dan perlahan Alif mulai melupakan rasa tertekannya dengan terus belajar. Mantra ajaib man jadda wajada telah merasuki hati Alif. Guru favorit Alif adalah ustad Salman, wali kelasnya. Ustad Salman terkenal dengan nasihat-nasihat dan motivasi yang membuat semangat hidup para muridnya bertambah berkali-kali lipat termasuk Alif sendiri.

Inti dari buku pertama ini adalah bagaimana Alif masuk ke pondok secara ‘kepaksa’ lalu ditempa habis-habisan di Pondok Madani, persahabatannya dengan Atang, Baso, Dulmajid, Said dan Raja. Yang dari awal Alif masuk ke pondok karena tak mau melawan kehendak orang tuanya menjadi terbiasa dan berusaha sekeras mungkin untuk tetap mengejar impiannya. 

Kisah dalam buku pertama sungguh membuat pembaca terkesan dan memberikan motivasi. 

Skor: 4/5
Ranah 3 Warna

Sinopsis

Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Impiannya? Tinggi betul. Ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika. Dengan semangat menggelegak dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Namun kawan karibnya, Randai, meragukan dia mampu lulus UMPTN. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang dia tidak punya. Ijazah SMA. Bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tadi tanpa ijazah? Terinspirasi semangat tim dinamit Denmark, dia mendobrak rintangan berat. Baru saja dia bisa tersenyum, badai masalah menggempurnya silih berganti tanpa ampun. Alif letih dan mulai bertanya-tanya: “Sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini?” Hampir saja dia menyerah. Rupanya “mantra” man jadda wajada saja tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Alif teringat “mantra” kedua yang diajarkan di Pondok Madani: man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Berbekal kedua mantra itu dia songsong badai hidup satu persatu. Bisakah dia memenangkan semua impiannya? Ke mana nasib membawa Alif? Apa saja 3 ranah berbeda warna itu? Siapakah Raisa? Bagaimana persaingannya dengan Randai? Apa kabar Sahibul Menara? Kenapa sampai muncul Obelix, orang Indian dan Michael Jordan dan Kesatria Berpantun? Apa hadiah Tuhan buat sebuah kesabaran yang kukuh? Ranah 3 Warna adalah hikayat bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup terus digelung nestapa.
Review

Peringatan, review ini mengandung spoiler!!!

Jika di buku pertama mantranya adalah man jadda wajada maka di buku keduanya kali ini mantranya adalah man shabara zhafira, siapa yang bersabar dia akan beruntung.

Di Negeri 5 Menara Alif diuji dengan kehidupan di pesantren, dalam awal kisah Ranah 3 Warna ini Alif menempuh kehidupan keras yang sebenarnya. Bukan lagi bertemu dengan ustad-ustad yang galak ataupun aturan pondok yang kaku melainkan ‘keras’ yang sebenarnya yaitu bertahan hidup secara mandiri di perantauan dan terus kuliah untuk mengekar mimpinya. 

Kisah yang diawali dengan usaha keras Alif untuk dapat kuliah di tengah banyak orang yang meragukannya. Alif mengikuti ujian persamaan SMA untuk dapat ijazah sebagai syarat masuk ke perguruan tinggi dalam waktu yang mepet. Dari sini kita disuguhkan bagaimana kesungguhan hati Alif untuk dapat menggapai apa yang diinginkannya. 

Alif berhasil lulus di ujian ini tapi Alif tidak masuk ke perguruan tinggi impiamnya, ITB. Alif tetap bersyukur karena dia dapat diterima di Universitas Padjajaran (Unpad) suatu Universitas yang tak kalah bergengsinya di kota Bandung. 

Kehidupan Alif di Bandung inilah yang membuat hati pembaca dikuras habis emosinya. Di tengah jalan ayahnya Alif meninggal dan membuat Alif nyaris depresi dan stres, dia harus membiayai biaya kuliah dan uang makannya sendiri. Di sinilah kehidupan yang sebenarnya dijalani oleh Alif, ujian yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan hidup di pondok.

Pembaca diajak peduli pada Alif yang berusaha untuk bertahan kuliah dengan berbagai cara dan hampir putus asa hingga mantra man shabara zhafira membantunya.

Paruh kedua buku ini sedikit demi sedikit kesan suram dan berpindah latar ke Quebec, Kanada. Ya, Alif dan teman-teman kuliahnya pergi ke Kanada karena memenangkan program pertukaran pelajar. 

Dalam buku kedua ini juga dibumbui dengan kisah romansa Alif. Di mana Alif jatuh cinta pada tetangga kosannya, Raisa, yang juga kuliah di Unpad dan ikut ke Kanada. Kisah antara Alif, Raisa dan Kanada menjadi bagian tersendiri dalam buku ini.

Secara keseluruhan menurut saya Ranah 3 Warna lebih baik dari Negeri 5 Menara.

Skor: 4.5/5
Rantau 1 Muara

Sinopsis:

Alif merasa berdiri di pucuk dunia. Bagaimana tidak? Dia telah mengelilingi separuh dunia, tulisannya tersebar di banyak media, dan diwisuda dengan nilai terbaik. Dia yakin perusahaan-perusahaan akan berlomba-lomba merekrutnya.
Namun Alif lulus di saat yang salah. Akhir 90-an, krisis ekonomi mencekik Indonesia dan negara bergolak di masa reformasi. Satu per satu, surat penolakan kerja sampai di pintunya. Kepercayaan dirinya goyah, bagaimana dia bisa menggapai impiannya?
Secercah harapan muncul ketika Alif  diterima menjadi wartawan di sebuah majalah terkenal. Di sana, hatinya tertambat pada seorang gadis yang dulu pernah dia curigai. Ke mana arah hubungan mereka? Dari Jakarta, terbuka cakrawala baru. Alif meraih beasiswa ke Washington DC, mendapatkan pekerjaan yang baik dan memiliki teman-teman baru di Amerika. Hidupnya berkecukupan dan tujuan ingin membantu adik-adik dan Amak pun tercapai.
Life is perfect, sampai terjadi peristiwa 11 September 2001 di World Trade Center, New York, yang menggoyahkan jiwanya. Kenapa orang dekatnya harus hilang? Alif dipaksa memikirkan ulang misi hidupnya. Dari mana dia bermula dan ke mana dia akhirnya akan bermuara?
Mantra ketiga “man saara ala darbi washala” (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan) menuntun perjalanan pencarian misi hidup Alif. Hidup hakikatnya adalah perantauan.
Rantau 1 Muara bercerita tentang konsistensi untuk terus berkayuh menuju tujuan, tentang pencarian belahan jiwa, dan menemukan tempat bermuara. Muara segala muara.

Review:

Jujur saja, bagian ketiga sekaligus penutup dari trilogi Negeri 5 Menara ini memang menurut saya yang paling membosankan, tapi saya tidak mengatakan ini jelek.

Apalagi di awal-awal di mana menceritakan kelulusan Alif dari Unpad dan nganggur hingga akhirnya diterima bekerja sebagai wartawan di majalah draft (Diyakini sebagai majalah tempo di dunia nyata) di awal-awal buku kisah Alif di majalah Draft mendominasi cerita dan saya merasa bosan dengan ini, entah kenapa. Tapi ada beberapa potongan kisah yang menarik seperti Alif mewawancarai seorang jenderal setelah reformasi digulirkan. 

Dalam buku penutup ini Alif akan menemukan cinta dan pasangan hidupnya, Dinara. Yang dalam buku kedua juga sempat bertemu dengan Alif. Ya, Dinara adalah teman dekat Raisa, perempuan yang pernah disukai Alif tapi ditikung oleh Randai ?. 

Saya sedikit sekali menemukan hal yang istimewa (bukan berarti tidak ada) yang menjadi ciri khas di dua buku sebelumnya. Paruh kedua buku yang berpindah ke Amerika Serikat karena Alif memenangkan beasiswa, dan terjadi peristiwa 11 September membuat Alif terpukul karena sesuatu hal. 

Man Saara Ala Darbi Washala, siapa yang berjalan di jalannya, dia akan sampai di tujuan. Begitulah kalimat sakti yang menjadi acuan Alif dari buku penutup ini. 

Saya membaca buku ini membutuhkan waktu paling lama dari dua buku sebelumnya. Entahlah, ada yang kurang dari buku ini jika dibandingkan dengan dua buku sebelumnya.

Tapi bukan berarti buku ketiga ini jelek. Buku ini tetap enak untuk dibaca dan tetap memberikan motivasi. Hanya saja jika dibandingkan dengan buku kedua, menurut saya buku kedua lebih bagus.

Skor 3.5/5