Nostalgia Tren dan Cara Nonton Film ala Generasi 90an

Di era digital sekarang ini, mendapatkan sebuah judul film yang diinginkan sangatlah mudah. Nyaris semua judul film yang anda inginkan pasti ada di Internet baik itu didapatkan dengan cara legal maupun bajakan. Caranya pun bermacam-macam, mulai dari download hingga streaming video secara berbayar maupun gratis. Namun di zaman dulu atau lebih tepatnya di era 80an, 90an ataupun tahun 2000an awal, untuk mendapatkan dan menonton film tidaklah semudah sekarang. Dulu belum ada internet atau sudah ada tapi masih sangat jarang ditemui dan tidak secanggih sekarang. Berikut adalah tren nonton film di era jadul:

1. Menggunakan VHS (Video Home System)

VHS atau kaset video berkembang di tahun 80an dan 90an. Harganya pada saat itu tergolong mahal dan belum lagi untuk memutarnya membutuhkan VHS player yang saat itu harganya lumayan. Film-film pada masa itu banyak yang berlabel film nasional termasuk film-film warkop. VHS waktu cukup menjamur sebelum ditemukannya VCD. Kualitas video dari VHS sendiri lumayan bagus mengingat kapasitas penyimpanan yang lebih panjang dari kaset. Meski demikian tren ini tidak berlangsung begitu lama karena datangnya VCD.

2. Sewa Film Di Rental VCD

Pada era 90an dan 2000an awal, dunia kedatangan teknologi berupa keping cakram yang mengkilat yang disebut CD. Kemudian munculah Video Compact Disc (VCD) untuk menyimpan video dan dapat diputar melalui VCD player. Fleksibilitas, keawetan dan harga yang murah yang dimiliki oleh VCD membuat film dalam bentuk VCD menjamur ketika itu. Dan tren yang terjadi di Indonesia adalah rental VCD yang menjamur di berbagai daerah. Rental VCD biasanya menawarkan judul-judul film box office dengan harga sewa yang sangat murah (mulai dari Rp.3000/2Hari) kebanyakan VCD yang disewakan adalah original dengan jaminan kartu identitas saat akan meminjamnya. Biasanya dalam rentak VCD dipajang label-label filmnya di sebuah etalase, lalu kita memilih judul film yang ingin dirental dan kemudian si pemilik rental akan mengambil VCD filmnya di sebuah tempat penyimpanan. VCD tersebut dibungkus oleh label baru yang sudah dibuat sendiri oleh si pemilik rental. Pada era itu, menyewa film di rental VCD merupakan hal yang mengasyikan, kita bisa memilih judul film bareng teman-teman dan menontonnya di rumah. 
3. Layar Tancap

baca juga:  Inilah Perbedaan Sinetron, Drama Korea, J-Drama, dan TV Series Barat

Pada era 80an dan 90an layar tancap merupakan acara yang mengasyikan sekaligus menjalin kebersamaan orang-orang sekampung. Biasanya layar tancap digelar bila ada warga yang merayakan sesuatu seperti pernikahan atau memang sekedar ingin menggelar hiburan bagi warga. Penyedia jasa layar tancap akan menggelar sebuah  layar yang ditancapkan di atas tanah yang terbuka agar dapat disaksikan oleh orang banyak dan filmnya diputar menggunakan proyektor. Warga akan berkerumun dan bisa menonton secara gratis film-film yang akan diputar. Pada masa itu menonton film merupakan hal yang istimewa dan bisa dijadikan hiburan rakyat. Biasanya pada saat event layar tancap, para pedagang seperti pedagang bakso, mie ayam, bajigur dll turur serta menjajakan dagangannya kepada orang-orang yang sedang nonton film. Mereka bisa makan sambil nonton film-film yang diputar. Sekarang layar tancap semakin sulit ditemui menyusul semakin mudahnya orang-orang untuk menonton film.

Itulah tren nonton film ala jaman dulu. Sekarang kita sangat mudah dalam mengakses judul film apapun yang diinginkan. Tidak seperti dulu, bahkan sekarang bisa asik nonton sendirian lewat ponselnya.

Artikel Seru Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi