Featured

4 Sutradara Yang Tewas dibunuh Akibat Film Yang dibuatnya

Dalam dunia perfilman, posisi sutradara merupakan posisi yang paling penting dan vital. Sutradara adalah orang yang menentukan film akan seperti apa dan bagaimana akan terlihat secara visual dengan mengeksekusi naskah yang sudah ditulis oleh penulis skenario. Sutradara juga kerap kali menjadi sasaran kritikan terhadap hasil film yang dibuatnya, tentu saja posisi ini mempunyai tugas yang berat selain posisi produser. Film bagus, sutradara akan dipuji, film jelek maka sutradara akan dicaci maki. Dan film yang kontroversial yang menyinggung pihak-pihak tertentu akibat idealisme dan kritikan dari sutradara itu sendiri membuat sutradara harus menerima konkuensi yang sangat fatal, termasuk dibunuh. Berikut adalah empat sutradara yang tewas dibunuh akibat film yang dibuatnya.

1. Hugh O’Connor

Pada tahun 1967, Hugh O’Connor tewas  terbunuh saat pembuatan film  dokumenter “US”. Film ini diberi budget oleh United States Department of Commerce dengan tujuan untuk memaparkan kehidupan di Amerika Serikat. Proses Syuting film ini berujung tragis saat pemilik tempat lokasi syuting film itu dilakukan yaitu di Letcher County, Kentucky. Menembak sang sutradara. Pada saat pengadilan, O’Connor justru sama sekali tidak mendapat pembelaan dari warga setempat karena mereka ternyata juga tidak menyetujui pembuatan film di tempat itu. Warga merasa tersinggung sebab  film itu hanya akan menggambarkan sisi kumuh daerah tersebut sebagai satu dari sekian banyak dalam potret buram sejarah Amerika melawan kemiskinan. Pelaku penambakan hanya divonis 10 tahun penjara.

2. Pier Paolo Pasolini

Pier Paolo Pasolini adalah seorang sutradara, penulis, sekalugus intelektual paling kontroversial dari negara Italia. Dia  dikenal lewat pemikirannya yang tajam serta vulgar. Ia tewas dibunuh dengan tragis tanggal 2 November 1975. Orang yang membunuh Pasolini sebenarnya belum sepenuhnya terungkap. Dugaan awalnya, Pasolini tewas dibunuh oleh seseorang yang namanya Pino Pelosi, dia berkata:  “terpaksa membunuh Pasolini karena dipaksa melakukan hal tak senonoh alias melakukan pelecehan seksual.”  Hampir tiga puluh tahun setelah  kejadian tragis itu, akhirnya Pelosi mengakui kalau dirinya dan keluarga dipaksa untuk menghabisi nyawa Pasolini oleh gembong mafia Italia yang menyebut Pasolini adalah seorang komunis. Kemudian pada 2005, dugaan baru pun muncul kalau Pasolini dibunuh oleh orang yang mencuri rol film Salo (1975). Sampai detik ini belum ada cukup bukti untuk memastikan siapa sebenarnya orang yang menghabisi nyawa sutradara kontroversial ini. Pasolini menjadi terkenal  gara-gara karyanya yang berjudul Salo: 120 Days of Sodom (1975), yang mengkritik secara membabi buta dan habis-habisan fasisme dan korupsi dikalangan politisi dan pemerintahan pasca jatuhnya sang diktator Benito Mussolini. Meskipun secara substansi penting, film edan dan gila ini sangatlah vulgar baik secara seksual maupun non-seksual, hingga berujung pada pelarangan diberbagai negara (termasuk Indonesia) hingga saat ini. Buat yang pengen nonton, saya sangat menyarankan untuk tidak menontonnya! film ini sangat-sangat gila dan edan.

3. James Miller 

Tewas pada tahun 2003. Selain seorang sutradara, Miller adalah seorang kameramen dan produser film dari Wales.Dia adalah seorang film maker yang  berani secara terang-terangan mengambil gambar rekaman dari tempat-tempat paling berbahaya di berbagai penjuru dunia. Dia juga pernah melibatkan diri dalam peliputan perang saudara di Aljazair, Afghanistan,Kosovo, dan lokasi-lokasi konflik lainnya. oleh sebab itulah banyak filmnya yang sukses meraih penghargaan. Kasus penembakan terhadap James Miller telah ditutup pada tahun 2005, tapi tetap banyak pihak yang menyesali ketidakadilan dan ketidaktegasan dari pihak Israel karena anggota militer yang menembak Miller tidak diadili sama sekali.
4. Christian Poveda

Christian Poveda dikenal sebagai sutradara film dokumenter asal Aljazair yang menjadi terkenal  berkat teknik Film Journalism-nya. La Vida Loca (2009) merupakan film dokumenter terakhir dibuatnya, filmnya adalah tentang  geng kriminal di El Savador. Akses masuknya ke geng sadis di Amerika tersebut harus berakhir tragis, dia tewas secara mengenaskan dengan empat tembakan di kepalanya. Dia diduga ditembak oleh anggota geng salah satu dari dua geng yang ia filmkan. Para anggota gangster mencurigai Poveda tidak menepati janjinya sebagai mediator antara geng tersebut dengan masyarakat. Mereka (para ganster) juga terlihat tidak puas dengan  film La Vida Loca, dan karena film itu mendapat perhatian internasional serta tidak memihak pada kepentingan mediasi para anggota geng. Selama 16 bulan proses produksi film, Poveda diberitakan telah melihat 7 aksi penembakan,  tiga diantara korban-korban itu didokumentasikan dalam film secara mendalam.