Anime, Review Movie

Review: A Silent Voice (2016)

Akhirnya saya bisa menulis di blog ini lagi sekitar sebulan lebih vakum akibat kesibukan bekerja di dunia nyata.
Setelah Your Name (Kimi no Nawa) meledak di seluruh dunia dan menjadi film anime terlaris di negeri sakura serta sukses tayang di berbagai negara, kini anime yang sebenarnya tayang di tahun yang sama dengan Kimi No Na Wa di Jepang juga seakan mengekor kesuksesannya.
Koe no Katachi atau dalam bahasa inggris berjudul A Silent Voice merupakan film anime yang dibuat berdasarkan manga karangan Yoshitoki Oimo yang terbit tahun 2013 dan berjumlah 7 volume.

 Di Indonesia Koe no Katachi ini akhrnya tayang pada tanggal 2 Mei 2017 di seluruh bioskop di tanah air. Sementara di Jepang film ini dirilis bulan September tahun 2016.

Disutradarai oleh Naoko Yamada, Koe No Katachi berkisah tentang laki-laki bernama Shoya Ishida (Miyu Irino) yang ceria dan punya banyak teman sewaktu SD, kehidupannya berubah drastis setelah bertemu dengan Shoko Nishmiya (Saori Hayami) yang datang menjadi murid baru di sekolahnya. Shoko adalah gadis penderita tuna rungu sedari lahir, di awal kepindahannya itu Shoko langsung menjadi bahan tertawaan dan bullying teman-temannya karena kekurangannya sendiri yaitu tidak dapat mendengar dan kesulitan untuk berbicara. Teman-teman di kelasnya antara lain, Naoko Ueno, Miki Kawai, Miyako Sahara dll. Dan yang paling terdepan dalam menindas dan membully Shoko adalah Shoya Ishida sendiri, dari mulai mengejeknya, melempar wajahnya dengan pasir, melepas dan menghilangkan alat bantu pendengarannya dan lain sebagainya hingga akhirnya, Shoko enggan bersekolah lalu ibunya Shoko melaporkan kejadian itu pada pihak sekolah. Alhasil Shoya ketahuan dan atas prilaku buruknya tersebut, Shoya balik dibully oleh teman-temannya dengan cara yang lebih parah, hal ini membuat sifat Shoya berubah 180 derajat dan menjadi manusia penyendiri dan tidak mau lagi punya teman. Sampai beranjak remaja dan duduk di bangku SMA, Shoya bertekad untuk menemui kembali Shoko dan berniat untuk meminta maaf atas kelakuannya di masa lalu sekaligis mengajaknya berteman. Dari sinilah drama-drama dan konflik baru dimunculkan satu persatu.

Sulit bagi saya untuk tidak jatuh cinta pada kisah disajikan dengan indah lewat karakter-karakternya, juga sulit bagi saya untuk tidak “bawa perasaan” ketika menonton film ini. Dari awal film perasaan saya sudah digaruk-garuk lewat momen di mana Shoko menjadi anak yang “berbeda” dan kerap dijauhi oleh teman-temannya. Perasaan simpati saya menjadi terbelah dua pada Shoya Ishida yang mengalami trauma di masa kecil yang mengakibatkan dia enggan untuk punya teman lagi.

Jujur saja, kalau bicara pelajaran apa saja yang bisa dipetik, Sudah pasti banyak sekali dari film ini. Saya yakin orang yang seperti Shoko Nishimiya dan Shoya Ishida di dunia nyata ini tidaklah sedikit. Saya jadi paham betapa effek “pembullyan” sangatlah besar dan jahat pada kehidupan seseorang.

Drama yang dihadrkan di sini juga terasa masuk ke hati. Di mana Seorang Shoko menyimpan rasa sakit di dalam dirinya dan hanya bisa selalu tersenyum pada orang-orang di sekitarnya. Karakter-karakter yang lain juga ikut andil yang cukup penting sepanjang cerita, sebut saja Naoko Ueno, gadis super cantik teman dekatnya Shoya Ishida sewaktu SD. Naoko punya peranan penting sebagai tokoh antagonis sekaligus tokoh ini ternyata cukup banyak disorot karena keunikannya. Adegan saat di rumah sakit adalah momen paling emosional buat saya.

Setiap karakter memberikan perannya masing-masing dengan pas dan ikut merajut hidupnya cerita dalam film ini. Di mana Shoya berusaha bertemu dan berteman kembali dengan teman-teman semasa SD-nya dulu.

Memang, dari segi artwork Koe no Katachi jelas kalah dari Kimi No Na Wa garapan Makoto Shinkai. Tapi dari segi cerita, opin saya mengatakan bahwa Koe no Katachi jauh lebih berisi dan realistis. Namun itu hanya sebatas opini toh masih banyak orang yang mengatakan bahwa Kimi no Na Wa lebih ‘baper’ dengan segala fantasi tingkat tingginya.

Dan meskipun banyak yang berkata bahwa filmnya ini agak sedikit berbeda dengan versi manganya, itu adalah hal yang wajar karena tidak mungkin film yang berdurasi 120 menit bisa menampung semua adegan dalam manga yang berjumlah 7 volume.

Koe no Katachi adalah sebuah anime dengan cerita nan indah, walau masih belum sempurna. Dengan kata lain, industri film animasi Jepang masih ada harapan untuk terus menghasilkan film-film berkualitas di tengah kejenuhan dan anjloknya kualitas cerita anime-anime Jepang akhir-akhir ini. Jika ingin menonton Koe no Katachi, jangan lupa siapkan tisu….

Related posts:

  • Keren bagetz lah penjelasannya. Jadi pengen download

    • Hilman Sky

      ceritanya bagus..