Garden of Words (2013) Review

Tiga tahun sebelum Makoto Shinkai merilis Kimi no Na Wa yang menuai kesuksesan besar, Garden of Words atau dalam bahasa Jepang berjudul Kotoha No Niwa lebih dulu dikenal para penikmat anime di seluruh dunia. Lewat film ini pula Makoto Shinkai menegaskan jika dirinya adalah pembuat film anime yang mempunyai kualitas visual yang sangat tinggi dan penuh detail yang kemudian menjadi ciri khasnya.

Saya sendiri tahu Makoto Shinkai melalui 5cm per Second (2007) dan kemudian Kimi no Na Wa baru kemudian menonton Garden of Words. Anime ini sangat enak dipandang mata karena kualitas visual dan artworknya yang mantap dan tidak semua anime mampu memiliki kualitas visual seperti ini.

Berkisah tentang seorang pelajar SMA bernama Takao Akizuki yang berusia 15 tahun yang juga seorang yang suka membuat sepatu dan ia juga bekerja paruh waktu setiap habis sekolah. Takao suka membolos ketika jam pertama sekolahnya setiap kali hujan turun yang kemudian ia menghabiskan waktu hujan tersebut di sebuah gazebo di taman yang penuh dengan nuansa hijau.

Di gazebo itulah Takao sering bertemu dengan seorang perempuan yang berpakaian rapi seperti pegawai kantoran, ia adalah Yukari Yukino, perempuan berusia 27 tahun yang selalu ada di tempat tersebut di pagi hari, makan cokelat dan minum bir. Awalnya Takao dan Yukari sama-sama hanya saling diam sampai salah satu dari mereka mengajak bicara karena saking sering bertemunya hampir setiap hari di musim hujan. Namun di saat hari cerah, Takao tidak bolos akan tetapi Yukari tetap datang ke taman itu, sehingga Yukari malah mengharapkan hujan terus setiap hari.

Garden of Words menekankan pada cerita permasalahan atau latar belakang dari usia yang berbeda, Takao yang berusia 15 tahun dan Yukari yang berumur 27 tahun. Takao tidak tahu kenapa Yukari bisa sampai bolos kerja setiap hari begitu pula sebaliknya, bahkan Takao awalnya tidak tahu nama perempuan yang lebih tua darinya tersebut.

Namun keduanya juga semakin dekat tatkala Yukari meminta dibuatkan desain sepatu pada Takao. Anime berdurasi 46 menit ini mempunyai cerita yang padat dan berisi, tentang dua orang ‘beda jenis’ yang awalnya tidak saling kenal dan mempunyai jarak usia yang cukup jauh.

Keindahan visual jelas menjadi kekuatan bagi Garden of Words, ditambah dengan musik dentingan piano di sepanjang film, detail-detail yang memukau seperti efek hujan dan suaranya juga mantap. Penonton seakan langsung diajak ke sebuah taman yang hijau dan merasakan gemercik hujan. Ya, saya juga serasa ikut duduk di taman tersebut sambil menikmati turunnya hujan.

Garden of Words sangat direkomendasikan bagi penyuka genre romance dan drama, karena ceritanya begitu ditata dengan baik dan karakternya mampu membuat penontonnya peduli. Sebuah karya Makoto Shinkai dengan semua ciri khasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*Wajib diisi